Benny Prasetyo (kiri) dan Hasan Basri (kanan). Keduanya merupakan bekas pilot Lion Air yang diPHK oleh perusahaan lantaran dianggap melakukan mogok apda 10 Mei 2016. Foto: Gilang Ramadhan/KBR



KBR, Jakarta - Rabu, 10 Mei 2016. Hasan Basri, Benny Prasetyo dan puluhan pilot lainnya berada di ruang pemeriksaan kesehatan Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Ini adalah ritual yang biasa dilakukan sebelum mereka menerbangkan si burung besi. Para pilot itu akan dicek tekanan darah serta psikologis mereka.

Tapi rupanya, para petugas kesehatan tak merekomendasikan Hasan, Benny dan puluhan pilot itu terbang. Sebabnya hasil pemeriksaan menunjukkan; kondisi psikologis para pilot tidak bagus.

Jika pilot dipaksakan terbang, besar kemungkinan mengalami kecelakaan dan sudah pasti membahayakan penumpang. Itu sesuai dengan konvensi ICAO Annex 6 dan konvensi itu diadopsi oleh Lion Air dalam Operation Manual (OM). Maka, puluhan pilot itu pun berdiam di bandara.

Belakangan baru diketahui, para pilot itu kesal lantaran uang transportasi tak kunjung dibayar perusahaan; Lion Air. Padahal, sesuai kesepakatan dengan manajemen, uang transportasi itu bakal diterima setiap awal bulan. Tapi, sampai lewat tanggal 10 Mei, uang itu tak kunjung diterima. Sial, karena tak terbangnya pilot-pilot itu dianggap pemogokan oleh perusahaan.

"Bayangkan kalau pilotnya sedang emosi. Bagaimana tentang keselamatan, sedangkan itu adalah tanggungjawabnya pilot. Sementara si perusahaan melakukan ini dan hal itu sama saja dengan mengabaikan masalah safety. Jadi kita tidak perlu melaporkan ini karena kita sedang tidak mogok," ujar Hasan ketika ditemui KBR di LBH Jakarta.

Kejadian 10 Mei itu pun berbuntut panjang. Pada 3 Agutus lalu, Direktur Lion Air memecat 14 pilot dengan alasan aksi mogok!

"Tanggal 3 Agustus kemarin diantara kami ada 14 orang yang di-PHK. Itu juga masalah lain, PHK dibuat tanpa kita tahu kesalahannya. Tanpa ada kejelasan dari disnaker dan sebagainya. Tanpa memberi surat PHK lagi malah dia press conference," sambung Hasan.

Tak hanya memecat 14 pilot, Lion Air juga menonaktifkan 19 pilot –dengan alasan yang sama –selama tiga bulan terakhir dan belum diizinkan terbang dengan dalih yang tak jelas.

Bagi pilot yang bekerja di Lion Air sejak 2013 ini, apa yang terjadi pada 10 Mei lalu itu merupakan puncak dari kekesalan mereka. Jauh sebelumnya, para pilot dibuat resah dengan jadwal terbang yang berantakan dan melebihi jam terbang.

Pernah suatu hari, ia dipaksa terbang hingga 22 jam. Padahal sesuai aturan seorang pilot terbang 9 jam sehari, 30 jam seminggu, 110 jam sebulan, atau 1.050 jam setahun.

"Ada pilot yang kerja sampai 22 jam. Jadi ceritanya ada rute Jeddah-Batam-Jeddah dilakukan oleh kru yang sama. Itu dilakukan dengan paksaan. Jadi setelah sampai Batam si kru-nya dipaksa terbang lagi untuk menuju Jeddah lagi di hari yang sama tanpa diberi istirahat oleh manajemen. Itu namanya menekan, memaksa," tegas Hasan dengan nada kesal.

Hal serupa juga dialami pilot Benny Prasetyo. Tapi pilot yang bekerja di Lion Air sejak 2010 ini terang-terang menolak.

"Ketika saya menelpon atasan saya, saya tetep disuruh datang untuk menjalankan rute tersebut tapi saya menolak. Jadi lebih banyak iklim kerjanya di Lion Air itu mendapat pemaksaan yaitu dimana kalau kita sakitpun, sudah ada beberapa first officer yang mengalami kelebihan jam terbang dan mengalami kelelahan tapi tetep disuruh untuk terbang," jelas Benny.

Kata Hasan, pemaksaan terbang itu terjadi karena keterbatasan kru. Idealnya, perbandingan jumlah pesawat dan kru adalah satu berbanding lima. Artinya untuk setiap pesawat, maskapai harus menyediakan lima kapten pilot dan lima flight officer.

Jumlah ini dibutuhkan untuk mengantisipasi jika ada pilot yang mengajukan izin tidak terbang, sakit, maupun sedang dalam masa cuti. Namun perbandingan antara pesawat dan jumlah penerbang di Lion adalah satu berbanding dua setengah. Dan dampaknya bisa ditebak, penerbangan Lion Air kerap delay.

"Hal seperti itu yang menyebabkan perusahaan atau penerbangan sering mengalami delay. Saya rasa itu salah satunya adalah karena jumlah kru yang tidak sebanding dengan jumlah penerbangan tiap harinya. Mengapa saya bilang demikian? Saya adalah narasumber yang valid karena saya adalah pilot Lion sampai saat ini," ujar Hasan yang statusnya masih dirumahkan.

Tak hanya jam terbang yang berantakan, kontrak kerja mereka pun memberatkan. Pria berusia 50 tahun ini mengatakan, ada pilot yang dikontrak sampai 20 tahun. Dan jika keluar, kena pinalti.

"Untuk masalah kontrak kerja bisa dilihat juga di sini, ada yang sudah bekerja 18 sampai 20 tahun, dengan pinaltinya jika keluar dari Lion Air mencapai 716 ribu dollar. Jadi kurang lebih sekitar Rp9,3 miliar. Dimanakah bisa seorang karyawan  melunasi hal tersebut dengan gaji misalkan first officer kita yang berapa juta, bisakah melunasi sembilan milliar ini?" tutur Benny.

Tak hanya memecat, si Singa Terbang rupanya melaporkan ke-14 pilot itu ke Bareskrim Polri. Mereka dituduh melakukan pencemaran nama baik perusahaan dan menghasut pilot lain agar mogok terbang.

Okky Wiratama –pendamping pilot, dari LBH Jakarta mengatakan, ia akan mendatangi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). “Sekarang dalam waktu dekat ini kita akan ke LPSK, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Ketika nanti teman-teman (pilot-red) ingin memberikan keterangan yang sebenar-benarnya maka keterangan mereka itu wajib dilindungi sebagai saksi,” jelas Okky.

Hingga kini, pihak Lion Air tak bisa dihubungi, pun telepon KBR tak kunjung berbalas. 

Kembali ke belasan pilot Lion Air. Mereka masih menunggu kejelasan. Dan sembari itu, mereka akan melawan kesewang-wenangan si Singa Terbang.




Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!