Jemaat muslim Ahmadiyah memasang spanduk pesan kebhinnekaan di masjid Nur khilafat, Ciamis. Spanduk

Jemaat muslim Ahmadiyah memasang spanduk pesan kebhinnekaan di masjid Nur khilafat, Ciamis. Spanduk ini dibentangkan setelah pengurus masjid mencopot sendiri spanduk penutupan masjid mereka. (Foto: Rio Tuasikal)

KBR - Pemerintah menyegel masjid Nur Khilafat milik muslim Ahmadiyah dengan dalih jemaah meresahkan warga sekitar. Setelah para jemaah membuka segel masjid, yang tersisa hanya rasa takut akan adanya serangan kelompok intoleran. Jurnalis KBR Rio Tuasikal bertanya pada warga sekitar, serta mengikuti kegiatan jemaat di masjid Nur Khilafat lalu menyajikan sambungan ceritanya untuk anda.
 
Siang itu, seorang perempuan berusia 60 tahun sebut saja Nisa (bukan nama sebenarnya) menunggu warungnya yang berada dekat di kawasan masjid Nur Khilafat berdiri. Warga yang tak bersedia disebutkan namanya itu merupakan saksi hidup bagaimana warga Ahmadiyah berkegiatan di masjid tersebut. Selama 40 tahun masjid Nur Khilafat berdiri di depan warungnya, warga dan jemaah Ahmadiyah selalu saling menghormati dan menghargai. Toleran.

Itu pula jadi alasan dia membantah pernyataan pemerintah yang menuduh warga Ahmadiyah menutup diri dari warga sekitar. Menurutnya hubungan warga dengan jemaah Ahmadiyah terjalin baik, penuh toleransi.  “Hubungan baik-baik saja. Tidak terganggu dengan masjid Ahmadiyah. Kita mah nggak tahu. Cuma dari luar saja kita denger ada apa. Apalagi ibu orang awam, sudah tua begini ya, cuma dengerin saja.”

Perempuan ini justru takut dengan kehadiran kelompok intoleran yang kemarin sempat datang mendesak pemerintah untuk menyegel masjid. “Ya kita takut-takut saja, takutnya ada apa-apa masjid ini. Nanti kita kena. Takutnya gitu aja. Takut ibaratnya dibakar, nanti sampai sini.”

Selama masjid berdiri, warga Ahmadiyah dan non-Ahmadiyah memang beribadah di masjid masing-masing. Namun warga Ahmadiyah ikut berbaur dalam setiap kegiatan warga. Seperti penjelasan warga lainnya yang tak berkenan disebutkan namanya. "Saya punya tetangga Ahmadiyah, dekat rumah saya sebelah sana. Hubungannya baik, hubungan tetangga lancar, ikut arisan segala macam.”

Jemaat Ahmadiyah di Nur Khilafat ada sekitar 40 orang. Ada 4 keluarga tinggal di lingkungan masjid, sedang sisanya tinggal di daerah lainnya. Syaeful Uyun, mubaligh Ahmadiyah untuk Priangan Timur, mengatakan jemaatnya selalu berbaur dengan warga sekitar. “Ada orang kawin, ahmadi kawin, mengundang tetangga, saya lihat rame. Terus ada tetangga bukan ahmadi, orang ahmadi diundang, hadir. Begitu juga kalau ada kematian. Biasa ada tahlil di masyarakat, orang ahmadi diundang hadir. Kan begitu.”

Menurut Uyun, masjid Nur Khilafat terbuka untuk semua umat muslim. Masjid tersebut juga kerap digunakan oleh pengendara yang melintasi jalan raya Tasik-Banjar. Lepas 24 jam sejak muslim Ahmadiyah membuka segel masjid mereka. Masjid Nur Khilafat kembali sepi. Jurnalis dan para pegiat HAM telah kembali ke Jakarta sore sehari sebelumnya. Jemaat kini harus menghadapi sendiri ancaman dari kelompok intoleran. “Tentu saja kami sudah memperkirakan apa-apa yang bakal terjadi pasca pembukaan ini. Dan jemaat Ahmadiyah Ciamis tentu saja tidak mengharapkan hal itu terjadi. Ini adalah bulan suci,” tambah Syaeful Uyun, mubaligh Ahmadiyah untuk Priangan Timur. 

Itu sebab, Uyun dan jemaat Ahmadiyah memilih untuk tetap berprasangka baik.  “Kita hanya husnudzon. Bulan puasa, kita hanya berharap setiap orang bisa berpuasa. Puasa itu artinya apa sih? Menahan diri. Menahan diri dari hawa nafsu. Dan jihad yang paling akbar itu bukan mengangkat senjata tapi jihad melawan hawa nafsu.”

Hampir tiga pekan segel masjid dibuka. Warga Ahmadiyah tetap berkegiatan seperti biasa, shalat 5 waktu, tarawih, serta ceramah agama. Suasana Ramadhan kembali seperti tahun sebelumnya. Juhana, jemaat Ahmadiyah rutin beribadah di masjid itu. Dia biasa datang dengan berkendara sepeda, seperti saat shalat Dzuhur berjamaah kala itu.  Meski mengaku lega karena sudah bisa shalat berjamaah di masjid Nur Khilafah, Juhana mengaku tak bisa shalat khusyuk seperti biasanya.

“Rasanya selalu dirintangi ketidakamanan terus. Memangnya ada apa. Ada apa sih di dalamnya? Tujuan mereka itu bagaimana? Sampai seolah-olah saya ibadah dengan teman-teman keluarga jemaat Ahmadiyah tidak tenang.”

Kata Juhana, ketakutan akan serbuan kelompok intoleran selalu muncul.  “Ada, merasa takut mah ada. Belum tenang sepenuhnya. Jadi, kenapa masjid lain tidak ada apa-apa? Kalau masjid Ahmadiyah disorot terus bagaimana sih?”

Ketakutan akan sangat wajar dirasakan jemaat Ahmadiyah. Pasalnya polisi hanya datang sekali saat jemaat membuka segel masjid. Polisi hanya mengamankan jemaat yang menggelar shalat Jumat berjamaah. Selepasnya ancaman dari kelompok intoleran bisa saja datang kapan saja.

“Saya bersama teman-teman Ahmadiyah ingin beribadah tenang,” pinta Juhana.


Kembali ke cerita awal: Segel di Pintu Masjid Kami (1)

Editor : Irvan Imamsyah


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!