[SAGA] Septo Pandu: 'Hidupkan Kuda Lumping dari Mati Suri'

Belajar dari masa lalu, Pandu kemudian sadar bahwa Panca Krida Budaya harus berubah. Tak bisa lagi mentas dengan konsep lama dan mengandalkan atraksi kesurupan.

Selasa, 15 Agus 2017 12:15 WIB

Septo Pandu Gunawan, pendiri Oemah Bejo. Foto: KBR.

KBR, Banyumas - Ebeg atau Kuda Lumping adalah kesenian khas Banyumas, Jawa Tengah. Pertunjukannya dimulai dengan tarian –yang menggunakan kuda-kudaan dari anyaman bambu, kemudian janturan dan gapetan yang dipimpin seorang penimbul atau dalang. Tak ketinggalan atraksi kesurupan.

Di Banyumas, ada ratusan kelompok seniman Kuda Lumping. Dan kelompok Panca Krida Budaya jadi yang paling tenar di Desa Randengan, Kecamatan Wangon. Selain karena usia kelompok ini yang sudah puluhan tahun, juga kelompok ini memiliki ciri khas; menyelipkan tarian kreasi dalam tiap pertunjukannya.

Seperti yang ditampilkan Sabtu malam di pekan pertama bulan Ramadhan. Di sanggar terbuka itu, musik gamelan mengiringi sinden dan para penari menirukan tokoh pewayangan.

Kelompok Panca Krida Budaya kini berada di bawah naungan Sanggar Oemah Bejo. Persisnya sejak dua tahun silam. Sebelumnya dimiliki kepala desa setempat. Tapi, seperti kebanyakan seni tradisional lainnya. Kelompok ini juga sempat dililit masalah; minim kreativitas dan tak adanya transparansi keuangan.

Itu mengapa, kata Tasam –seniman yang sudah 14 tahun bergabung, perekonomian para seniman Panca Krida Budaya stagnan lantaran dimonopoli satu orang.

“Dulu itu bukan organisasi tapi milik perorangan sehingga tak transparan baik harga untuk kami. Setelah diwadahi sanggar, kami belajar transparan karena Panca Krida Budaya milik bersama,” ungkap Tasam.

Tak hanya persoalan keterbukaan keuangan, penari muda seperti Roselina Silviana dan Richie Amelia Stevani –yang bergabung setahun belakangan, bercerita kalau dulu para pemain dibebaskan manggung dengan kelompok lain. Sedang sekarang, sebaliknya.

“Dulu bebas mentas dimana saja boleh. Kalau sekarang, enggak harus minta izin sama yang punya rombongan,” aku Richie.

Jumlah seniman yang tergabung di Panca Krida Budaya sekitar 30 orang dari beragam umur. Mulai dari belasan tahun hingga berusia sepuh.

Sekarang dalam sebulan, paling tidak manggung dua kali. Sekali mentas dibayar Rp5 juta jika masih di area kecamatan dan Rp7 juta jika di luar kecamatan. Dengan bayaran sebesar itu, tiap pemain dibayar berbeda-beda –sesuai dengan posisi. Cara inilah yang digunakan Septo Pandu Gunawan –pendiri Oemah Bejo, untuk memperbaiki manajemen Panca Krida Budaya.

“Misalnya tukang kendang dengan sinden ada presentase yang beda, makanya ada kata adil tapi tak harus sama. Kalau penabuh Rp 100 ribu, kalau pengendang Rp 200 ribu,” terang Pandu.

Bukan hanya sistem bayaran yang dirombak, Pandu juga membantu pengelolaan kas Panca Krida Budaya. Tujuannya supaya kelompok seniman ini bisa mandiri.

Namun begitu, bukan perkara mudah memboyong para seniman Panca Krida Budaya untuk bergabung ke Oemah Bejo. Sebab, selain karena harus menggelontorkan mahar ke pemilik lama sebesar Rp 25 juta, Pandu juga mesti berhadapan dengan para tokoh tua desa.

“Tokoh terdahulu yang diagungkan muncul rasa cemburu. Karena dulu saya terang-terangan banget tentang masalah sekolah atau pemerintahan,” sambungnya.

Dan, Oktober 2015 menjadi hari sejarah bagi Pandu. Selain karena menyabet Juara III Nasional Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan di Kemenpora, pemuda berusia 24 tahun ini resmi memiliki kelompok seni Panca Krida Budaya plus peralatan karawitan.

Belajar dari masa lalu, Pandu kemudian sadar bahwa Panca Krida Budaya harus berubah. Tak bisa lagi mentas dengan konsep lama dan mengandalkan atraksi kesurupan. “Kuda lumping selalu diidentikkan dengan kesenian kampungan. Karena identik yang kesurupan bukan tari kreasi. Setelah perpindahan ke Oemah Bejo saya garap tari kreasi.”

Tari kreasi yang digagasnya diejawantahkan dalam tari tokoh pewayangan atau mengawinkan Lengger, Ebeg, dan Barongan dalam satu panggung. Hasilnya? Kelompok ini meluaskan pentasnya hingga ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Bayarannya pun bertambah besar. Imbasnya, penghidupan para seniman meningkat.

“Kalau kualitas makin bagus, pasaran makin mahal. Kalau dulu dibayar Rp 50 ribu sekarang Rp 100 ribu. Jadi sekarang ada kenaikan,” jelas Pandu.

Perubahan itu dirasakan Tasam. “Insya Allah ada. Kalau kita mau menampilkan yang terbaik, harga juga makin naik,” ujarnya.

Simak video kisah anak-anak muda inspiratif lainnya di kbr.id/anakmuda  

Editor: Quinawaty

Baca juga:

Sabrina Bensawan: 'Berbagi Tak Perlu Menunggu Kaya'
Putry Yuliastutik: 'Mengawinkan Konfeksi dengan Teknologi'
Iki Yosan: 'Mendongeng Demi Menghapus Trauma'
Dwi Puspita: 'Mendobrak Stereotip Dalang'
Hajad Guna: 'Melantangkan Suara dari Kampung ke Dunia'
Safprada Rizma: 'Tularkan Virus Literasi Lewat Pondok Inspirasi
Merry Andalas: 'Menjaga Rinjani dengan Gaharu'
Lukman Hakim: 'Berhenti Merokok di Bank Sehat'
Akhmad Sobirin: 'Manisnya Gula Semut dari Semedo'  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Penembak Brimob di Timika Berjumlah 15 Orang

  • Ahli: PNPS Penodaan Agama Langgar HAM Warga Ahmadiyah
  • Jokowi Tunjuk Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Dialog Antaragama
  • Tak Dapat Bantuan KIS, Puluhan Pemulung Geruduk Gedung DPRD Sumut