[SAGA] Lukman Hakim: 'Berhenti Merokok di Bank Sehat'

Gagasan Bank Sehat, diakui Lukman, menjadi program paling sulit yang dijalankan. Sebab tak mudah mengubah pola pikir dan kebiasaan pecandu rokok.

Selasa, 15 Agus 2017 13:15 WIB

Lukman Hakim, penggagas Bank Sehat di Banyumas. Foto: KBR.

KBR, Banyumas - Desa Karangkemiri di Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah, terletak di perbukitan. Untuk sampai ke sana, tak mudah. Jalannya menanjak dengan lebar kira-kira satu meter –itu pun tak semua diaspal. Banyak yang masih beralas batu.

Bertani menjadi sandaran ekonomi masyarakat setempat. Sementara pendidikan, kebanyakan hanya sampai SD. Bagi mereka, mengejar gelar tak terlalu penting. Toh, pendidikan tinggi belum tentu mengubah nasib.

Tapi tak begitu bagi Lukman Hakim. Kala masih bocah, ia rela menempuh puluhan kilometer. Menuruni bukit dan menerabas hutan agar tiba di sekolah tepat waktu. Pengalaman itu, masih ia ingat betul. Kadang, ia tertawa jika mengenang masa-masa itu.

Dan karena tekat yang kuat, Lukman meneruskan pendidikan sarjana ke Universitas Muhammadiyah Purwokerto --jurusan Farmasi. Kini, ia menjadi dosen Farmasi di Universitas Peradaban. Bersama sang istri, ia mengelola apotek sendiri yang dinamai Apotek Rakyat Sehat.

Sejak muda, Lukman aktif dalam organisasi kampus. Dua kali dia menjabat ketua organisasi kemahasiswaan. Begitu lulus, ia merintis Padepokan Indonesia Sehat dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Sindang Mekar. Di situ, Lukman memfasilitasi anak-anak putus sekolah dengan mengikutkan program kejar paket B dan paket C secara gratis. Kemudian pada 2015, ia mencetuskan ide lain; Bank Sehat.

“Kenapa Bank Sehat? Ini terinspirasi dari ayah saya. Dulu waktu beliau masih muda, dia nabung. Dia satu-satunya yang tak merokok di desanya. Dari menabung akhirnya saya dan kakak saya bisa kuliah,” ucap Lukman.

Lukman juga mendasarkan idenya dari data Rencana Strategi Nasional di Kementerian Kesehatan. Di situ disebut bahwa 12,6 persen penghasilan masyarakat atau tertinggi habis untuk membeli rokok. Data lain menunjukkan sejak 1995-2007, kematian akibat rokok meningkat dari 41 persen jadi 51 persen.

Berangkat dari statistik itu, Lukman ingin mengubah pola pikir warga Desa Karangkemiri agar berubah; berhenti merokok dan mengalihkan uangnya ke hal-hal produktif –bisnis atau melanjutkan sekolah. Dia lantas bergerak dan mengajak orang-orang agar mau bergabung.

“Kayak saya mengajar di kampus, di kelas sambil promosi. Lalu kami ada desa binaan di Purbalingga, itu didatangi,” sambungnya.  

Hanya saja, ajakannya tak selalu ampuh. Berkali-kali tak diacuhkan, diejek, hingga dicaci.  

Dua tahun jalan, Bank Sehat memiliki 50 anggota yang berasal dari masyarakat umum, mahasiswa, dan pelajar. Dari 50 anggota itu, lima belas di antaranya perokok. Khusus bagi perokok, Bank Sehat bakal ‘meracuni’ mereka agar mengurangi intensitas merokok sampai benar-benar berhenti. Sementara, uang dari membeli rokok ditabung.

“Kami ajak mereka menurunkan intesitas merokok. Kami fasilitasi ke hal yang produktif dengan dibelikan kambing dan nanti bagi hasilnya antara penabung dengan peternak binaan. Kami hanya fasilitator aja.”

Tak hanya keuntungan dari ternak kambing yang didapat anggota Bank Sehat. Mereka juga bisa mengakses fasilitas kesehatan secara gratis. “Konsultasi kesehatan gratis ke apoteker dan dokter gigi.”

Kini, 12 perokok dinyatakan bersih dari rokok. Muhamad Syaeful Anwar, anggota Bank Sehat. Sejak usia 14 tahun, ia termasuk perokok berat. Sehari, Syaeful bisa menghabiskan tiga bungkus –itu artinya uang yang harus ‘dibakar’ sekitar Rp 35 ribu.

Kini, ia sudah berhenti merokok dan akan melanjutkan sekolah paket C. Remaja berusia 18 tahun, mengaku beruntung bergabung di Bank Sehat.

“Di Bank Sehat saya bisa menambah penghasilan dan melanjutkan pendidikan. Berhenti merokok,” ujar Syaeful.

Gagasan Bank Sehat, diakui Lukman, menjadi program paling sulit yang dijalankan. Sebab tak mudah mengubah pola pikir dan kebiasaan pecandu rokok. Tapi ia takkan menyerah.

“Yang kami fokuskan adalah bagaimana intensitas merokok menurun,” pungkasnya.


Simak video kisah anak-anak muda inspiratif lainnya di kbr.id/anakmuda  

Editor: Quinawaty

Baca juga:

Sabrina Bensawan: 'Berbagi Tak Perlu Menunggu Kaya'
Putry Yuliastutik: 'Mengawinkan Konfeksi dengan Teknologi'
Iki Yosan: 'Mendongeng Demi Menghapus Trauma'
Dwi Puspita: 'Mendobrak Stereotip Dalang'
Hajad Guna: 'Melantangkan Suara dari Kampung ke Dunia'
Safprada Rizma: 'Tularkan Virus Literasi Lewat Pondok Inspirasi
Merry Andalas: 'Menjaga Rinjani dengan Gaharu'
Lukman Hakim: 'Berhenti Merokok di Bank Sehat'
Akhmad Sobirin: 'Manisnya Gula Semut dari Semedo'  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi