Purwati (erbaju biru) dan Kusmiyati (berkerudung coklat) adalah anggota Koperasi Gemah Ripah. Foto: Ninik Yuniati/KBR.



KBR, Jakarta - Dua perempuan Purwati dan Kusmiyati tengah melewatkan petang dengan berbincang di selasar rumah sederhana di Cipinang Muara II, Jakarta Timur. Mereka duduk di sofa yang kusam dan telah pudar warnanya. Di teras juga tampak sebuah gerobak berisi sayur-sayuran yang belum terjual.

Sesekali perbincangan mereka terganggu karena lalu lalang kendaraan di depan rumah atau suara anak-anak yang sedang asyik bermain.

Keduanya, sudah berusia senja. Purwati hari itu, mengenakan blus dan celana panjang sedangkan Kusmiyati berkerudung coklat. Mereka tampak akrab dan kadang berkeluh kesah tentang beban ekonomi keluarga masing-masing.
 
Pasalnya, peristiwa delapan belas tahun silam, membuat ekonomi keluarga keduanya, limbung. Purwati dan Kusmiyati, sama-sama kehilangan anak yang diharapkan menjadi tulang punggung keluarga.
 
“Kalau mikir ya gini sekarang, ya Allah anak saya, kalau sudah kerja, saya sudah memetik hasilnya. Usia saya ini 50-an lebih, istilahnya kalau anak yang itu masih hidup, berarti kan kita sebulan 100 ribu atau 200 ribu pasti dapat rezeki, tapi anak sudah diambil Tuhan, ya apa boleh buat,” ucap Purwati lirih.
 
Kala kerusuhan Mei 98 merenggut nyawa anak mereka, tak ada yang bisa dilakukan. Sebabnya, selain karena usia yang kian menua, juga tak ada modal memulai usaha.
 
Tapi Purwati, tak mau terus-terusan menyesali peristiwa itu. Toh, ia sadar hidup mesti berjalan. Dan meski ekonomi keluarga terpuruk, ia masih mampu bertahan. “Tadinya ya modalnya kecil. Ibaratnya, tadinya cabai setengah kilo, jadi sekilo, bawang sekilo, jadi sekilo setengah. Karena ada koperasi, jadi saya buat tambahan.”
 
Koperasi yang disebut Purwati, adalah Koperasi Gemah Ripah artinya Tenteram dan Makmur –yang anggotanya keluarga korban kerusuhan Mei 1998 dan tragedi 1965.
 
Sudah tiga tahun, ia menjadi anggota. Sedikit demi sedikit, perempuan asal Pacitan ini mengembangkan usahanya berdagang sayur yang telah dilakoni sejak 25 tahun silam. Dari pinjaman koperasi itu pula, Purwati bisa membeli gerobak sayur sendiri, dari yang sebelumnya hanya menggelar meja.
 
Dan berkat koperasi juga, perempuan 51 tahun ini terhindar dari jerat rentenir. “Karena kalau bank keliling itu takutnya rumah disita. Kayak gitu, saya nggak berani lagi. Terus diadakan koperasi itu, jadinya saya terus minjem koperasi sampai sekarang. Alhamdulillah kita bersyukur modalnya bisa nambah, kita dagang,” imbuhnya.
 
Dari hasil berdagang sayur pula, Purwati bisa menghidupi suaminya yang sakit-sakitan dan putra bungsunya yang masih menganggur. “Sebenarnya suami saya, kalau nggak sakit, kalau masih kuat. Tapi dia sakit begitu, ya mau nggak mau kan, saya sendiri yang mikul segala-galanya.”
 
Pembentukan Koperasi Gemah Ripah difasilitasi ELSAM dan IKOHI pada 2012. Anggota awalnya sekitar 20 orang yang kemudian berkembang hingga lebih dari 100 orang. Mayoritas anggota koperasi memang dari korban insiden Mei 98 dan Tragedi 1965 yang kondisinya miskin seperti Purwati.
 
“Mereka memang sebagian masyarakat kelas bawah, yang ditandai yaitu rumahnya yang dempet-dempetan, atapnya rendah-rendah. Satu rumah dihuni oleh lebih dari 4 orang. Dan sebagian besar ibu-ibu ini punya suami, tapi suaminya kerja serabutan, besok ada, besok enggak. Tapi kan hidup harus jalan, ibu-ibu ini sebagian besar itu tulang punggung keluarga, pencari nafkah utama,” terang aktivis ELSAM, Rini Prasnawati.
 
Kata Rini, koperasi merupakan solusi agar keluarga korban bisa berdaya secara ekonomi. Dengan itu, mereka bisa terus bertahan memperjuangkan keadilan. “Kita berpikir ini korban juga harus berdaya secara ekonomi, karena kalau tidak berdaya secara ekonomi bagaimana bisa menuntut? Ke sana ke mari saja membutuhkan ongkos. Mulai dari situ, kami berinisiatif untuk membuat koperasi, kita rembugan sama korban,” jelas Rini.
 
Bagi Purwati, Kusmiyati dan puluhan keluarga korban lain, koperasi jadi wadah pemersatu untuk terus melanjutkan perjuangan.
 
“Lantung sana, lantung sini, lari sana, lari sini. Untung saja ada koperasi, kalau nggak ada koperasi, dari dulu bubar. Karena kita ada koperasi, jadi kita masih, pertemuan sama teman-teman itu, pertemuan sama mahasiswa-mahasiswa juga,” ungkap Purwati.
 



Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!