Tenaga medis dari Suku Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta menyuntikan vaksin DPT/HB/HIB kepada balita korban vaksin palsu saat pelaksanaan vaksinasi ulang di Puskesmas Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Senin (18/7). Pelaksanaan vaksinasi ulang yang dige



KBR, Jakarta - Dua tenda berukuran sedang dan kecil terpasang di halaman Puskesmas Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur. Di dalamnya, puluhan ibu-ibu menggendong anak mereka yang rata-rata berusia tiga tahun.

Mereka duduk di antara jejeran bangku plastik. Sementara di hadapan mereka, sebuah ranjang pasien dan lima buah meja kayu diletakkan bersandingan. Dan di situ pula, belasan petugas kesehatan bergantian memberikan vaksin pada puluhan bocah itu.

Ini adalah imunisasi ulang. Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan atas penangkapan puluhan tersangka penyebar dan pembuat vaksin palsu yang kini ditangani Kepolisian. Satu di antara tersangka itu, seorang bidan bernama Manogu Elly Novita –yang berpraktik di Ciracas. Dari penyelidikan Kepolisian pula, ada 197 anak korban vaksin palsu di bidan Elly.

Di sana, KBR menemui beberapa orangtua. Salah satunya, Marinah. Ia pernah bertetangga dengan bidan Elly dan cukup mengenal baik. Tak ada kecurigaan kala bidan itu memberi vaksin palsu pada buah hatinya.

"Semua lingkungan di situ nggak ada yang curiga. Karena kita nggak tahu. Pikir saya, melahirkan di situ, ya sudah vaksinasi di situ juga. Nggak ada kepikiran jelek ke situ. Orang sama saya juga baik, pernah jadi tetanggalah istilahnya," kata Marinah.

Begitupun Sutijah. Sejak anak pertama hingga si bungsu lahir, imunisasi dilakukan bidang Elly. "Karena sudah biasa di situ, langganan di situ, dari kakaknya sampai anak terakhir di sana semua. Karena jarak rumah saya dekat tinggal nyebrang saja," ujar Sutijah.

Selepas beredar kabar bidan Elly terlibat kasus vaksin palsu, Sutijah baru menyadari kondisi si bungsu yang berusia sembilan bulan itu, kerap sakit-sakitan. “Tadinya kita nggak tahu itu vaksin palsu atau bukan. Cuma akhir- akhir ini, tiga bulan pertama anak sakit pilek, batuk, flu, nggak sembuh-sembuh. Kita sudah berobat ke dokter anak dan paling sembuh dua hari tiga hari, terus kumat lagi kalau obatnya sudah habis,” sambung Sutijah.

Keluhan serupa juga dirasakan Dyan Widyawati. Anaknya yang berusia lima belas bulan tak pernah absen dari sakit. “Sudah berobat kemana-mana sampai tiga dokter bilangnya dia alergi. Terus terakhir dia flu Singapura, seminggu kemudian kena Tifus dan DBD. Jadi kan kekebalannya berkurang,” ujar Dyan.

Vaksinasi ulang ini jadi yang pertama, setelah hampir sebulan kasusnya membuat gempar masyarakat. Selama itu, pemerintah enggan membuka nama rumah sakit atau bidan yang menggunakan vaksin palsu.

Barulah, kala desakan masyarakat tak mampu lagi dibendung, Menteri Kesehatan Nila Moeloe, buka suara tentang 14 rumah sakit dan delapan bidan yang ketahuan menggunakan vaksin palsu. “Bahan sampelnya kita ambil rumah sakit tersebut. Ada 14 rumah sakit yang saat ini yang sudah menjadi tersangka. Dan sampai kepada Direktur rumah sakit yang mendapat pengajuan penawaran harga vaksin,” kata Nila.

Tapi, angka itu baru temuan sementara. Sebab dari pengakuan pelaku, vaksin palsu dijual ke Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Sementara, temuan BPOM atas 39 sampel menunjukkan ada empat vaksin yang dipastikan palsu. Dua di antaranya vaksin tripacel yang diperuntukkan untuk DPT. Sampel vaksin tripacel itu diambil BPOM dari RSIA Mutiara Bunda Serang dan Klinik Tridaya Medica Bandung.

Selain itu ada juga serum anti tetanus dari RS Bhineka Bhakti Husada Tangerang, dan vaksin pediacel dari Klinik Rahiem Farma. Pediacel adalah vaksin kombinasi untuk diphteri, tetanus, pertussis, polio, dan Hib (haemophillus influenza).

Kembali ke Ciracas. Semua orangtua yang ditemui KBR, seperti Nova Rosyita, hanya minta satu; polisi menghukum pelaku seberat-beratnya.

“Mudah-mudahan pelakunya bisa diadili seadilnya. Menurut saya ini kejahatan yang melebihi kejahatan pembunuhan. Ini benar-benar pembunuhan massal. Kita sama-sama petugas medis tolonglah lebih manusiawi. Demi keuntungan sesaat mengorbankan segalanya. Ini benar-benar sudah nggak adil,” harap Nova yang juga pernah berprofesi sebagai perawat.




Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!