Muhammad Nasir Abas (kanan) bersama Jan keluarga korban Bom Bali, Jan Laczynski (kiri). FOto: KBR

KBR, Jakarta - Pada 1985, Nasir yang kala itu baru berusia 18 tahun nekat pergi ke Afghanistan.

“Kalau tentang Afghanistan, saya suka baca dari koran, majalah, buku-buku sehingga saya tahu apa yang terjadi di sana. Kemudian ada orang yang menawarkan ke Afghanistan, saya kemudian melihat ini adalah peluang untuk mengetahui apa yang dimaksud jihad. Itu yang membuat saya ingin ke sana,” ungkap Nasir.
 
Konsekuensi berjihad di negeri konflik bersenjata pun siap ia lakoni; membunuh atau dibunuh.

“Memang pada saat itu saya sudah membayangkan apa yang ada di Afghanistan. Bahwa di Afghanistan dalam situasi konflik. Yang kemudian akan terlibat dalam penggunaan senjata, penyerangan, pastilah akan membunuh musuh. Jikapun saya sampai ikut berperang, dan saya sampai mati di sana. Saya pikir saya sudah siap,” sambung Nasir.

Meski Pondok Pesantren Maahad Ittiba'us Sunnah tak menginginkan Nasir pergi, ia tetap nekad berjihad. 

Tapi kehadiran orang-orang pelarian dari negeri jiran Indonesia, memperkokoh niat Nasir. Abdul Latif, kakak ipar Nasir Abas bercerita.

“Satu grup lagi yang datang dari grup-grup Ustaz Abdullah Sungkar. Jadi dia dapat ilmu dari ustaz-ustaz di sana. Ada Ustaz Abu Jibril ketika itu yang menguatkan, yang memberikan penerangan lagi dengan ayat-ayat Qur’an. Sampai di Afganistan dia masuk dalam akademi militer di sana,” timpal Abdul Latif.

Di Afghanistan, Nasir kemudian menjadi guru bagi para jihadis. Mereka di antaranya Imam Samudra, Dulmatin, Umar Patek, Ali Imron hingga Azahari.

“Setelah saya lulus dari Akademi Militer Mujahiddin Afghanistan tahun 1990. Kemudian saya berprofesi sebagai instruktur di akademi itu dan mulai melatih sejak tahun 1990 sampai 1993. Murid-murid saya sudah banyak, antara lain Imam Samudra, Dulmatin, Umar Patek, Ali Imron, Sarjiu, Sawi. Kalau Noordin, Azahari itu saat di Filipina dia pernah berlatih di kamp qudaibiyah. Ratusan sudah murid saya,” sambung Nasir.

Sekembali dari Afghanistan, Nasir datang ke Pesantren Lukmanul Hakim di Johor Bahru, Malaysia yang didirikan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir.

Dia lantas ditugaskan melatih separatis Moro di Filipina.

“Saya bersama enam orang yang lain berangkat ke Filipina untuk melatih orang MILF (Moro Islamic Liberation Front). Tetapi sampai di sana empat dari teman kami yang ditugaskan sebagai instruktur kecewa, karena orang MILF belum berkumpul. Perlu menunggu satu bulan untuk mengumpulkan dari berbagai daerah," kata Nasir.

"Teman-teman instruktur tidak siap, sehingga empat orang meminta pulang seperti Abu Tolut, Abdurahman Ayub, Nasruloh yang kemudian meminta sudah pulang. Akhirnya kami membangun kamp pada akhir tahun 1994, yang kami namakan kamp Hubaidiyah,” sambungnya.

Melanglang buana dari berbagai medan pertempuran, dari Afghanistan hingga Filipina, Nasir selalu lolos dari sergapan musuh. Tapi nasib menentukan lain ketika di Indonesia.

Ikuti serial jihadi episode Jihad Baru Panglima Jamaah Islamiyah bagian ke-empat.



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!