Slamet Hadi alias Abu Luqman. Foto: Gungun Gunawan/KBR

KBR, Jakarta - Sejumlah upaya deradikalisasi dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bagi mereka yang terjerat aksi terorisme.

Tak hanya pada pelaku, usaha serupa juga disodorkan pada keluarga. Di antaranya menggandeng Kementerian Tenaga Kerja dengan cara memberi pelatihan kerja kepada para istri terpidana teroris. Tujuannya, agar keluarga terpidana teroris bisa hidup mandiri.

Kepala BNPT, Saud Usman Nasution menjelaskan, pemberian pelatihan ini merupakan pendekatan budaya untuk memberantas pemahaman radikal di keluarga yang bersangkutan.

“Mereka ini saudara kita, bukan musuh. Jadi kita harus sadarkan. Karena itu kita siapkan pekerjaan untuk mereka. Sehingga tidak hanya berpikir yang radikal-radikal,” ungkap Saud Usman.

Pelatihan kemandirian juga dilaksanakan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM. 

Direktur Pembimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham, Priyadi, mengatakan pelatihan ini ditujukan untuk para petugas lapas yang menangani narapidana kasus terorisme di Indonesia yang sedang menjalani pembebasan bersyarat.

“Kami bekerjasama dengan yayasan Prasasti Perdamaian berkaitan dengan pelatihan kewirausahaan. Dilaksanakan di Solo. Ada usaha pembuatan roti, kuliner, pembuatan bestik, bakso, sehingga nantinya pelatihan ini bisa membantu para narapidana yang sedang menjalani pembebasan bersyarat," sambung Priyadi.

"Saat ini sementara kami fokuskan untuk narapidana kasus terorisme yang sedang menjalani pembebasan bersyarat. Mereka perlu mendapat pendampingan dari petugas BAPAS,” tambahnya.

Salah satu narapidana kasus terorisme yang ikut program Deradikalisasi adalah Slamet Hadi alias Abu Luqman, alumi perang di Afghanistan.

"Saya datang ke penjara mengingatkan kawan-kawan jangan melakukan ini [aksi teror], karena imbasnya terhadap Islam akan jelek. Ilmu saja, dakwah. Karena jihad itu bisa dengan dakwah juga. Kalau dengan radikal akan jelek. Alhamdulillah sekarang seperti itu," ucap Abu Luqman.

Meski telah mengikuti program deradikalisasi, toh anak Abu Luqman pergi juga ke Suriah bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Kepergian Amir atas restu sang ibu Masfufah.

"Ya namanya seorang ibu pasti sedih. Dari kecil dididik, diurus, dan disusui. Tapi sudah besar dia minta pergi jihad. Tapi saya yakin saja bahwa Allah akan melindungi dia," tutur Masfufah.

Tak heran bila program deradikalisasi ini dianggap gagal.

Dari ratusan terpidana kasus teroris, hanya segelintir yang benar-benar berubah. Menurut pengamat terorisme, Sholahudin, para bekas narapidana teroris itu bisa saja kembali beraksi.

"Selain deradikalisasi, yang banyak itu disengagement. Disengagement itu apa? Dia tidak itu lagi [terlibat] untuk saat ini, temporer. Kalau nanti syarat-syarat jihad terpenuhi mereka kembali melakukan kekerasan. Seperti saya bilang, itu juga karena perubahan pemikiran. Dan perubahan pemikiran itu sangat dipengaruhi oleh pemikiran di luar," imbuh Sholahudin.

Itulah sebabnya mengapa BNPT mendatangkan ulama-ulama asal Timur Tengah untuk berdialog dengan para terpidana. Di antaranya Syaikh Dr. Mahmood Mohammed Dawood Al-Sumaidee, Menteri Wakaf Sunni Irak, Syaikh Ali Hassan al-Halaby dari Yordania dan  Syaikh Radjab dari Suriah.

Simak Serial Jihadi edisi Menengok Program Deradikalisasi bagian ketiga.



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!