Kepala Adat Krayan, LEwi Gala Paru (kiri), Bibong Widyarti (tengah), sedang menggelar pameran di Lapangan Banteng, Jakarta. Foto: Facebook Bibong Widyarti.


KBR, Jakarta - Lelaki sepuh berkacamata itu duduk di atas panggung bersama dua pria lainnya yang berasal dari Belitung dan Kutai Barat. Sekilas tak ada spesial dari sosoknya; mengenakan kemeja batik dengan rambut keperakan. Tapi, siapa sangka dialah si penjaga kearifan lokal dari satu daerah pinggiran Indonesia.

Lewi Gala Paru, namanya. Kepala Adat Krayan Selatan, di Kabuaten Nunukan, Kalimantan Utara. Mei lalu, ia ke Ibukota Jakarta untuk menerima penghargaan Equator Prize 2015 dari Perserikatan Bangsa Bangsa karena peran mereka di garda terdepan melakukan konservasi lingkungan, pengentasan kemiskinan, serta penanganan perubahan iklim.

"Boleh di tempat lain kekurangan makanan, di tempat kami tidak pernah. Sejak krisis 1998, kami tetap berdiri sebab makan kami cukup," ucap Lewi dengan bangga.

Di tempat tinggalnya, tak pernah ada yang namanya krisis pangan. Justru, mereka sanggup menjual beras organik sampai ke Malaysia. Jenisnya ada tiga macam; Padi Adan Hitam, Padi Adan Putih, dan Padi Adan Merah. Lewi mengatakan, beras dari desa adatnya punya aroma yang khas.

"Harum, kalau kita masak semua orang keluar tercium aromanya. Kalau kita makan beras itu lain, tidak ada lauk pun nikmat hanya pakai garam saja sambil minum kopi," katanya.

Dan demi menghasilkan beras unggul itu, masyarakatnya berpegang pada aturan leluhur dari nenek moyang mereka. "Untuk mengurangi hama kita harus serempak (menanam-red). Kalau kita menyebar benih kita harus umumkan kepada masyarakat bahwa tanggal ini hari ini kita harus sama-sama menyebar benih. Juga menanam, minggu pertama bulan berikutnya kita serempak." Ia melanjutkan, jika menanam tak serentak maka itu sama saja dengan memberi makan tikus.

Untuk mengoptimalkan hasil panen, masyarakat adat Krayan tak pernah menggunakan pestisida. Bagi mereka, itu sama saja dengan meracuni tanah. Sesuai adat pula, masyarakat adat Krayan dilarang “memperkosa” tanah. Itu mengapa, tanah diberi waktu memulihkan diri sehabis panen.

"Kita harus membuat tanah itu istirahat karena tidak didukung pupuk kimia. Tanah itu harus istirahat, kami buat istirahat 6 bulan jadi kesuburan padi kami itu terus menerus," imbuhnya.

Keberhasilan masyarakat adat Krayan, rupanya dilirik orang luar yang ingin meniru cara mereka. Tapi, tak pernah ada yang berhasil. "Pernah percobaan ke Bogor untuk menyingkat umurnya dari 6 bulan ke 3 bulan, malah jadi 8 bulan. Artinya gagal. Ditanam juga tumbuh subur tapi tidak ada buah."

Lewi ingin Krayan dikenal dan diperhatikan pemerintah pusat. Dengan begitu kondisi terisolasi yang selama berpuluh tahun melekat, bisa dibuka perlahan. Terutama, akses ekonomi untuk warganya.

Itu alasan, mengapa Lewi menjual beras unggul mereka ke Malaysia. "Ini lho Krayan, wilayah Indonesia, bahwa ini lho Krayan perbatasan Indonesia-Malaysia. Kami perlu akses, bagaimana ekonomi kami bisa jalan, bagaimana kesehatan kami bisa menjamin kami hidup, bagaimana pendidikan kami lebih baik itu yang kami tawarkan," jelas Lewi.

Karena itulah, Lewi sangat berharap pada Presiden Jokowi agar menepati janjinya dalam Nawa Cita; membangun Indonesia dari pinggir. Dia pun berharap, masyarakat adat Krayan Selatan tak meninggalkan petuah leluhur menjaga kearifan lokal.

"Masyarakatnya kita terus beri arahan memelihara lingkungan dan tempat tinggal, karena tempat tinggal kalau rusak tidak ada duanya tidak ada cadangannya. Kalau rusak selesai sudah," ucapnya.




Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!