Penggusuran Kampung Ikan di Penjaringan. Foto: Ade Irmansyah/KBR.

KBR, Jakarta - Hari masih pagi, puluhan warga yang kebanyakan ibu-ibu menggelar doa bersama. Tepat di hadapan mereka, puluhan backhoe bertengger siap meratakan rumah mereka. Untuk mengawal penggusuran itu, ribuan petugas gabungan polisi, TNI dan satpol PP bersiap membongkar kawasan kampung nelayan di ujung Jakarta ini.

Salah satu warga, Ucok, menuntut pemprov mengganti bangunan miliknya. Pasalnya, ia dan warga lain sudah tinggal di sana selama puluhan tahun. "Warga menginginkan hanya minta ganti rugi bangunannya saja. Jangan main gusur-gusur saja. Kita kan manusia juga. Punya hak juga sebagai warga Indonesia. Kecewa sekali warga, karena tidak ada mediasi dari Pak Camat, kita langsung dapat surat pemberitahuan, lalu ada SP3 lalu penggusuran. Jeda SP1 dan SP3 itu sekitar 12 hari," ujarnya.

Senada dengan Ucok, Ati –ibu satu anak ini kecewa dengan langkah pemprov yang main gusur. Padahal dulu, kata dia, pemprov sempat menjanjikan uang pengganti.

"Saya giniin aja, eh pak saya ini bukan pendatang, saya ini orang Jakarta, Orang Betawi. Kalau saya pendatang sih nggak apa-apa. Orang saya lahir di sini kok," kata Ucok.

Tapi apa daya, kampung nelayan itu luluh lantak. Sebagai gantinya, pemprov menyewakan Rumah Susun Sewa Marunda dan Rawa Bebek, untuk ditinggali. Untuk tiga bulan pertama, gratis. Setelah itu, mereka harus bayar Rp300 ribu perbulan.

"Yah, bahwa Pemerintah ini kan mengeluarkan kebijakan rumah susun bagi warga yang terkena relokasi, tidak ada kebijakan lain selain itu. Kebijakan kami hanya rumah susun," jelas Wakil Kepala Satpol PP Provinsi DKI Jakarta, Yani Wahyu.

Rusunawa Rawa Bebek berlokasi persis di samping jalan inspeksi Kanal Banjir Timur. Sekitar 25 kilometer dari lokasi penggusuran. Dibangun kala Joko Widodo menjadi gubernur pada akhir tahun 2014.

Rusunawa ini terdiri dari enam tower dengan masing-masing tower terdiri dari enam lantai berjumlah 125 unit. Mulanya, rusun ini bakal digunakan untuk para buruh yang bekerja di sekitar Pulogadung, Pulogebang dan sekitarnya.

Di rusun ini pula, penghuni dilarang membawa binatang peliharaan. Tak juga boleh memelihara tanaman termasuk pot gantung, ikan, akuarium.

Sementara itu, akses menuju rusun sangat sepi. Ini karena letaknya dan belum ada transportasi umum yang menuju rusun. Walhasil, sebagian besar warga yang bekerja di wilayah Penjaringan kesulitan dan mengeluhkan jarak yang jauh.

Kepala Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) Rawa Bebek, Ani Suryani membenarkan terbatasnya kondisi rusun.

Hingga saat ini pembangunan untuk unit keluarga di Rusunawa Rawabebek masih berlangsung. Kata dia, rusun model keluarga itu diperkirakan selesai akhir tahun ini.

Ia juga mengatakan, pihaknya menyediakan 3 tower bagi warga gusuran Pasar Ikan yaitu tower A, E, dan F yang seluruhnya sebanyak 375 unit. "Kalau bujangan itu tidak disediakan fasilitas masak, karena modelnya studio seperti apartemen. Tidak ada tempat cuci piring, tidak ada buat masak, tetapi kamar mandinya malah dua dalam satu unit. Karena tadinya perkiraan kami satu unit itu untuk dua orang," kata Ani.

Dia juga melarang warga membawa barang-barang pribadi dari tempat lama dengan alasan tidak ada lahan untuk menyimpan. Meski begitu, ia berdalih telah menyediakan dua bus Transjakarta sebagai solusi keluhan warga. "Tadi pagi baru dimulai Transjakarta yang besar masuk ke sini untuk membantu warga rumah susun aktivitas. Karena panjang, agak susah. Saya minta tukar bus yang tiga perempat saja sebanyak dua unit."

Kata dia, bus ini beroperasi dari pukul 06.00 wib hingga 22.00 wib yang melayani dua rute yakni dari rusun Rawa Bebek menuju Stasiun Cakung dan Terminal Pulogebang. Kepala Unit Pengelola Rusun Rawa Bebek Ani Suryani menuturkan, penghuni rusun hanya perlu menunjukkan kartu untuk menikmati bus Transjakarta.

Untuk menggerakkan ekonomi mereka, pihaknya menyiapkan bantuan berupa alat dagang meliputi 20 etalase, lima gerobak, dan tiga tenda untuk dagang. Bantuan ini diberikan Sudin Koperasi Usaha Kecil Menengah Perdagangan (KUKMP) Jakarta Timur.

"Etalase sudah dibagikan kemarin dan warga di belakang sudah mulai berdagang. Sebenarnya masih kurang. Sudin KUKMP lagi upayakan untuk menambah lagi," imbuhnya.

Tapi seperti apa kehidupan korban gusuran pasar ikan di sana?

Erni, berkeluh tentang kepindahannya ke Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Rawabebek, Jakarta Timur. Di sini, ia tak leluasa seperti ketika tinggal di rumahnya di kawasan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara.

"Bingung di sini, apa-apa mahal sih, itu karena kemana-mana jauh. Sebenarnya harga di pasar sih sama, tapi kan kalau sekarang ongkosnya mahal, harus pakai ojek. Kalau dulu mah jalan kaki juga sudah sampai buat belanja, mana yang beli juga banyak sampai malam, di sini siang saja sepi," keluh Erni.

Dulu, di pasar ikan, Erni punya warung makan kecil. Sehari ia bisa mengantongi 500-600 ribu. Sementara suaminya, bekerja sebagai nelayan. Tapi semenjak rumah mereka digusur pemprov DKI Jakarta, semua itu hilang.

Di Rusunawa Rawa Bebek, ia dan keluarga, tinggal di unit yang berstatus belum menikah. Di unit itu, penghuni dilarang memasak dan memboyong barang-barang dari tempat tinggal asal. "Mau masak aja susah, buat masak mi aja tadinya saya harus bolak-balik ke atas kalau ada yang mesan. Memang sih sekarang tempat ini masih gratis, tapi katanya entar harus bayar, tahu deh itu bener apa engga."

Penggusuran itu mematikan perekonomian Erni dan suaminya. Dan setelah sebulan di sini, ia memulai usaha baru; berjualan di pekarangan rusunawa. Modalnya hanya meja sederhana berukuran 2x1 meter. Di sana, Erni menjual tiga macam lauk pauk, gorengan dan kopi. Dalam sehari, setidaknya ia mengantongi 100 ribu rupiah.
 
Senasib dengan Erni, Junaidi yang sudah 40 tahun bekerja di pelelangan ikan, terpaksa menggantungkan hidup pada pemberian uang bulanan anaknya. Pria 56 tahun ini, sejak dua bulan belakangan, di rusun mengurus cucu. Padahal dulu, ia terbiasa memegang minimal 500 ribu setiap hari.

"Malu sekarang nyusahin anak mantu terus. Dulu mah kantong saya tidak pernah sepi, ada terus duit mah. Sekarang mumet. Sebenarnya sih saya bisa aja kembali ke sana, mau tidur di mana aja bisa, orang semuanya saudaranya. Tapi kan istri nggak mau ke sana lagi, ninggalin dia sendiri disini juga kasian," ujarnya.

Sepanjang hidupnya, Junaidi terbiasa berdampingan dengan laut. Karena itu, sejak hijrah ke rusunawa, ia merasa tak kerasan. Karena itu sesekali, ia mencuri waktu menengok rumahnya yang dulu. Meski jauh dan harus memakan waktu hingga 4 jam perjalanan.

"Dulu mah bangun tidur langsung lihat laut, sekarang mau ke sana aja bisa sampe 4 jam naik Transjakarta. Memang gratis sih tapi macet banget. Saya sudah tua, jadi nggak kuat kalau ke sana naik motor," keluh Junaidi.

Warga pasar ikan –korban gusuran pemprov DKI Jakarta, tak bisa berbuat apa-apa. Sebab rumah mereka dianggap kawasan kumuh. Karena itulah, tak ada pilihan yang ditawarkan pemda. Kecuali dipaksa menyingkir dari sana. Dalam cetak biru pembangunan Ibu Kota Jakarta, lokasi pasar ikan akan disulap jadi area wisata bahari.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!