Kholishuddin di depan gereja. (Foto: KBR)

Kholishuddin di depan gereja. (Foto: KBR)

Medio Desember tahun 2000 silam, bom malam Natal meledak di enam gereja di Jakarta. Teror yang ditebar sebenarnya tak sesuai harapan, karena rencananya bom diledakan di sejumlah kota secara serentak. Salah satunya rencana peledakan bom di salah satu gereja di Pangandaran. Jurnalis KBR, Aisyah Khairunnisa menemui pelaku bom Natal Pangandaran untuk menggali sebab ia ingin melakukan aksi itu. Inilah cerita bagian terakhir dari Kholishuddin.


Gagal merencanakan bom di dua gereja di Pangandaran, sang pelaku, salah satunya Kholishuddin, putar arah. Setelah melapor pada Hambali, Kholis menjatuhkan pilihan targetnya ke salah satu hotel di Pangandaran.

Aksi pun dimulai menjelang Magrib di malam Natal 24 Desember 2010. Pembawa bom pertama, Unes pergi duluan dari penginapan tempat mereka meracik bom. Namun nahas, vespa pinjaman yang dikendarai baru melaju sampai di depan gang, bom yang dibawa sudah meledak duluan.

Lewat kesana, langsung ke luar, saya nunggu di sini, duduk-duduk gitu kan. Baru aja dua tiga menit langsung bunyi BLARRR!! Yaudah. Nah dari situ saya solat, siap-siap dulu di mushola. Di sini ada mushola di depan. Abis solat magrib, ada orang teriak dari sana.

Kata Kholishuddin, menurut keterangan saksi mata, tubuh Unes terhempas hingga lima meter ke atas. “Itu saya juga prediksinya enggak tahu ya. Kemungkinan ada konslet. Yang kedua salah setting timer. Atau kemungkinan kan dibawanya kegoncang-goncang. Kena goncangan, enggak tahu lah. Jadi  timernya disetting pada jam 21.00. Ya tapi ternyata kejadiannya banyak yang meledak. Mungkin yang paling ini waktu gereja itu yang Jawa Barat aja.”

Aksi bom malam Natal tahun 2000 akhirnya hanya berhasil diledakkan di enam gereja di Jakarta. Menurut Kholis, aksi di Jawa Barat saat itu bisa dibilang yang paling gagal. Selain di Pangandaran, pelaku bom di Bandung juga gagal meledakkan bomnya di gereja. Bom sudah terlanjut meledak di rumahnya sendiri.

“Enggak ada evaluasinya ini. Orang ini juga istilahnya, ini kan bukan peraturan begini, kalau begini enggak, ini kan bukan di medan jihad yang bisa diinikan. Harus ada analisis.”

Salah satu warga Pangandaran yang berjualan di sekitar pantai punya opini lain. Ibu pemilik warung ini yakin bom meledak karena mitos di wilayah Pangandaran.

Rencana Kholis gagal sepenuhnya. Selepas itu, ia meninggalkan keluarga dan anak-anaknya selama empat tahun. Menjadi buronan polisi dengan pulang pergi Indonesia-Filipina dengan menumpangi kapal. Sampai akhirnya ia tertangkap di perbatasan lantas mendekam di penjara. Kholis mengaku, niat jahatnya menjadi pelaku peledakkan bom gereja adalah sebuah kesalahan.

“Kita menganggap memang suatu kesalahan. Kita tidak boleh berbuat seperti itu lagi lah. Kecuali kalau memang sudah terjadi besar-besaran dan memang menjadi sebuah, yang sudah mendunia lah hal itu. Dan ada yang memang syariatnya harus seperti itu, ya kita kalau sekarang ini kita aduh, memang satu kesalahan lah yang tidak boleh diulang lagi.”

Kini ia menjalani hari-harinya sebagai sopir truk. Menjauhkan diri dari aksi jihad radikal lainnya. Kini pikirannya hanya ingin membangun sesuatu yang baik bagi agamanya. “Jihad itu ada arahan-arahan dalam membangun ekonomi untuk ke arah sana. Membikin apa kan gitu. Yang mengarah ke sana lah gitu. Ya ke arah jihad maksudnya. Untuk memperkuat Islam. Memperkuat Islam Indonesia. Biar agak lengkap. Untuk scoop Indonesia dulu lah.”

Kembali ke cerita awal: Kholishuddin dan Bom Natal Pangandaran (1)  dan Kholishuddin dan Bom Natal Pangandaran (2)

Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!