Aktivis 98, John Muhammad memandu Tur 'Merawat Ingatan Mei 98' di Glodok, Jakarta. Foto: Eli Kamilah.

KBR, Jakarta - Di salah satu pusat perdagangan elektronik terbesar di Jakarta; Glodok, suasana begitu ramai. Geliat jual-beli, tampak di tiap pertokoan. Tapi, 18 tahun yang lalu, Glodok, mati suri. Ratusan kios dirusak, dijarah dan dibakar.

“Ini salah satu gedung yang ada di Mei 1998. Jadi pada saat itu, banyak gedung yang seperti ini. Jadi kaca rusak semua. Masa itu, ini perkantoran, saat itu beberapa ada yang menjual, merenovasi, tetapi kalau yang tidak, ya terlantar begini,” teriak Yunita di pinggiran jalan Glodok.

Yunita adalah pengacara publik dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Ia memandu puluhan orang termasuk KBR yang ikut  dalam ‘Wisata Merawat Ingatan Mei 1998’. Glodok, adalah lokasi kedua yang kami kunjungi setelah Tanjung Priok. Di sana, pada 1984, juga terjadi kerusuhan yang berujung pada matinya 23 orang.

Peristiwa yang terjadi di Glodok, Jakarta Barat, tak lepas dari rentetan kerusuhan jelang lengsernya bekas Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

Kamis pagi, 14 Mei, ratusan orang berkumpul di depan Harco Glodok. Massa merusak toko kemudian menjarah barang-barang yang ada di dalamnya. Anehnya, tak ada aparat polisi yang mencegah atau menghalau massa. Peristiwa silam itu juga meninggalkan trauma bagi para pedagang yang mayoritas etnis Tionghoa.

Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang menginvestigasi insiden itu menyebut, kerusuhan sengaja diciptakan. Itu terlihat dari polanya yang sistematis. Pasalnya di hari yang sama, ada enam lokasi di Ibu Kota yang mengalami hal serupa. Aktivis 98, Dyta Caturani.

“Bulan Mei bahwa dalam laporan Tim Gabungan Pencari Fakta TGPF, bahwa ada pengorganisiran atau mobilisasi besar-besaran orang dengan tipe yang seragam laki-laki cepak dan berbaju hitam, masuk truk dan diturunkan daerah tertentu seperti ini. Mereka membakar emosi massa dengan alasan, kamu menjadi miskin karena Tionghoa, itu makanya kerusuhan itu muncul,” kata Dyta.

Dyta yang juga menjadi pemandu tur itu mengatakan, kala Mei 98, isu ‘Semua Milik Pribumi’ sengaja dihembuskan untuk memancing amarah warga pribumi.

Mei 98 pun menyisakan kepedihan pada perempuan Tionghoa. TGPF mencatat ada 85 perempuan korban perkosaan. Sial, karena kejahatan seksual itu tak kunjung terungkap. Malah, salah satu saksi korban; Ita Martadinata, dibunuh ketika hendak bersaksi.

“Ada satu korban yang mau bersaksi, perempuan 18 tahun, dia diperkosa, dia bangkit langsung, dan menjadi relawan bahkan di TGPF. Dia dijadwalkan bersaksi di PBB. Satu minggu jadwal sidang, dia pulang sekolah, ke rumah, di kamarnya dia ditusuk sampai mati,” tuturnya.

Perjalanan kami berlanjut ke lokasi berikutnya; Universitas Trisakti. Di dalam bus, Dyta sempat melontarkan pertanyaan mengenai kerusuhan Mei 98 kepada peserta. Tapi hanya beberapa saja yang menjawab. Maklum saja, ketika itu mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Seperti Kemal dan Icha, peserta dari Bandung.

Jelang sore, kami tiba di Universitas Trisakti. Kami lantas diantar mengitari museum Trisakti. Di sana, berjejer empat foto korban yang merupakan mahasiswa kampus setempat, juga barang-barang milik mereka. Ada pula, satu jendela kaca yang tertembus peluru –itu jadi penanda bagaimana brutalnya aparat.

Tak hanya itu, Trisakti juga membangun Monumen Tragedi 12 Mei. John Muhammad, yang saat itu menjadi korlap aksi, menceritakan arti monumen itu. “Kita buat ini untuk mengingat kejadian Trisakti. Namanya Monumen Tragedi 12 Mei. Maknanya sebenarnya empat orang, batunya ada 98. Monumennya antara empat dan lima perseginya. Inilah bentuk mengingatka,” kata John.

Selepas dari Trisakti, kami tiba di makam Pramoedya Ananta Toer di kawasan TPU Karet Bivak. Pram, merupakan simbol perlawanan atas ketidakadilan terhadap Orde Baru. Sastrawan besar itu sempat dibuang ke Pulau Buru selama 14 tahun tanpa diadili.

Hingga kemudian, perjalanan tur berakhir di Jakarta Timur. Di sana, sebuah mal jadi sasaran amuk massa yang menjarah lantas membakar.

Di sana, ada dua ibu korban yang sudah menunggu. Salah satunya Ruyati Darwin, ibu dari korban Eten Karyana. Masih segar diingatannya, 14 Mei 1998, aksi pembakaran Yogya Plaza atau Mal Klender. Putera sulungnya jadi korban juga ratusan orang lainnya.

Kerusuhan dan kekerasan pada 13, 14, dan 15 Mei 1998 diperkirakan merenggut ribuan nyawa. Hasil investigasi Kontras pada 2014 mencatat 1.190 orang tewas dan 27 lain terluka akibat senjata tajam.

Dan, Wisata Merawat Ingatan Mei 1998 ini sesungguhnya diwariskan untuk mengingatkan generasi muda bahwa 18 tahun yang lalu terjadi pelanggaran HAM. Dan itu akan terus digaungkan. Kembali Dyta Caturani.

“Negara ini hanya bisa diperbaiki oleh generasi muda kalian ini. Sejarah kekerasan ini harus dipotong, dan yang bisa melakukan itu, adalah generasi muda kawan-kawan ini. Kalau kita tidak bisa berharap pada generasi tua yang memimpin sekarang ini, mari berharap pada diri kita sendiri, paling tidak mari tidak menjadi bagian dari masa lalu,” pungkas Dyta.




Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!