Bangunan sekolah SDN Pojokklitih 3 di Dusun Nampu, Desa Klitih, Jombang. Foto: Muji Lestari/KBR

KBR, Jombang - Dingin masih membekap Desa Megaluh di Kabupaten Jombang. Tetes embun dan kabut masih terasa kala guru dan bocah-bocah itu tengah bersiap menempuh puluhan kilo menuju sekolah mereka di Desa Klitih.

Ini pagi, saya ikut bersama, Agus, menyusuri hutan, sungai dan bukit. Agus, salah satu guru SDN Pojokklitih 3 adalah warga Kecamatan Mojowarno. Sehari-hari, pria 45 tahun ini mengendarai sepeda motornya menuju sekolah yang jaraknya 50 kilometer.

Dengan sepeda motor sekitar satu setengah jam, kami tiba di Desa Klitih. Di sana, kami bertemu Suwadi, Kepala Sekolah SDN Pojokklitih 3. Tapi untuk sampai ke sekolah itu, masih satu setengah jam. Sebab kami, harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak di tengah hutan dan bukit.

Sedang kendaraan, harus kami parkir di tempat penitipan sepeda motor milik warga di ujung hutan. Medan yang sulit, tak memungkinkan untuk dilewati kendaraan. Selain hutan, tebing, dan jalan yang licin, kami harus menyeberangi sungai.

“Pertama kali saya ke Nampu, waktu banjirnya sedada orang dewasa. Pernah saya mau hilang, kaki saya terlindas batu, ngangkatnya terlalu berat sehingga saya hampir saja terpeleset, tangan ini ditarik teman sehingga tas saya hampir hilang,” kenang Suwadi.

SDN Pojokklitih 3 berada di Dusun Nampu, Desa Klitih. Karena letaknya terpencil, maka tak mudah bagi siswa dan guru untuk sampai ke sana.

Saban hari, mereka harus jalan kaki selama hampir satu jam; menyeberangi tiga sungai. Sementara jalan setapak pun licin dan terjal penuh bebatuan. “Ada alternatif jalan lain tapi sulit kita jangkau, karena walaupun perjalanan yang kita tempuh itu 12 kilometer dari Klitih ke Nampu tapi jalanya itu seperti lorong-lorong, sulit untuk kita lalui.”

Suwadi, sudah setahun lebih menjadi Kepala Sekolah SDN Pojokklitih 3. Ia bercerita, sungai, hutan dan jalan terjal itu jadi satu-satunya rute terdekat menuju sekolah. Tak ada jalan pintas, kecuali harus berputar dua kali lipat jauhnya.

Karena itulah para guru yang mengabdi di desa terpencil, diberi uang transportasi khusus sebesar Rp. 125 ribu untuk yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Rp. 155 ribu untuk yang non PNS. Uang transport itu diberikan diluar gaji yang mereka terima setiap  bulan.

“Karena cuma jalan satu ini saja yang dapat dilalui oleh siswa asal Kedungringin, kami sudah terbiasa tapi kadang-kadang kami tidak masuk kalau airnya tinggi, takut hanyut,” kata Raihan, siswa kelas III SD Pojokklitih 3.

Bocah itu juga bercerita, tiap hari harus menyusuri sungai yang dalamnya hampir satu meter. Tapi, kadang bisa mencapai satu meter lebih, jika diguyur hujan deras.

Ketika air sungai meluap, mereka memilih bolos, takut hanyut terbawa arus. Karena itulah, mereka berharap ada jembatan. “Kelas empat, kalau berangkat ke sekolah jalan kaki, jalanya becek, kalau banjir tidak masuk sekolah, jarak dari rumah ke sekolah sekitar 15 kilometer, berangkat sendiri tidak diantar sama orang tua, pengen dikasi jembatan sungainya,” ucap Ali Fadloli, siswa kelas IV SD Pojokklitih 3.

Siswa di SDN Pojokklitih, berasal dari Dusun Nampu, dan sebagian dari desa sebelah yakni Kedungringin, Kabupaten Nganjuk. Di sini, jumlah siswanya tak sampai 20. Tiap kelas, siswanya paling banyak 5 anak. Malah untuk kelas 3, tidak ada siswanya. Satu ruang kelas, mesti dibagi jadi dua –dengan pemisah berupa papan bekas atau triplek.

Sementara gurunya, hanya 9 orang; lima berstatus PNS dan sisanya Guru Tidak Tetap (GTT). Gaji GTT Rp200 ribu per bulan.

“Kelas satunya ada empat anak, kelas dua tiga, kelas tiganya kosong tidak ada muridnya, kelas empat tiga, kelas limanya tiga anak, kelas enamnya tiga anak. Jadi jumlah 16 siswa. Kalau Ujian Nasional karena di sini termasuk SD terpencil dan SD kecil menggabung di SD induk Pojokklitih 1 yang kita lalui tadi,” imbuh Suwadi.

Salah satu guru honorer, Sucipto bercerita, selama 12 tahun mengabdi, ia dibayar Rp200 ribu saban bulan. Meski jarak yang jauh dan medan yang berat, tapi tak menyurutkan niatnya mendidik bocah-bocah itu.

“Mulai mengajar di sini sejak tahun 2004 sampai sekarang, kira-kira ya 12 tahun. Saya masih GTT Sekarang honornya masih 200 ribu, kalau untuk kebutuhan sehari-hari ya nggak cukup. Cuma kita kan untuk belajar mengajari anak didik kita. Harapan saya agar ada perhatian dari Pemerintah untuk lokasi pendidikan yang didalam hutan ini,” sambung Sucipto.

Melihat kondisi ini, anggota Komisi V DPR, Sadarestuwati hanya bisa prihatin. Namun ia berjanji bakal memperjuangkan nasib guru dan siswa SDN Pojokklitih 3. Ia mengaku sudah mengusulkan pembangunan jembatan yang melintasi sungai. Dana itu berasal dari APBN.

“Jadi kita mengusulkan ada beberapa jembatan dan juga untuk khusus lokasi ini saya tidak hanya sekedar mengusulkan jembatan, tetapi penataan kawasan. Sekaligus penataan infrastruktur dan membangun rumah-rumah tidak layak huni dan juga membangun sanitasi untuk warga masyarakat disini (Nampu),” janji Sadarestuwati.



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!