[Bagian I]  #17thBersama65

Di era kepemimpinan Soekarno, seniman yang tergabung di Sanggar Bumi Tarung dimudahkan berkarya. Hasil buah pikir dan rasa mereka banyak menghiasi kota kala menyambut tetamu negara.

Namun, huru-hara politik 1965 mengubah segala manis yang dikecap para seniman itu. Kepemimpinan berganti. Rezim orde baru menangkapi dan, membunuh seniman bumi tarung yang menjadi jaringan Lekra--organisasi kesenian afiliasi PKI.

Puluhan tahun dalam cengkraman Orba nyatanya tak mematikan jiwa seni para seniman Sanggar Bumi Tarung. Yang berbeda, ideologi harus ditanggalkan. Demi menyambung hidup, beberapa di antaranya terpaksa menjadi seniman jalanan dengan imbalan murah. Pada 2012, KBR menyusun cerita mereka.


Bukan hanya Sanggar Bumi Tarung, 2007 silam, cerita tentang organisasi tani yang dibubarkan lantaran berafiliasi dengan PKI juga turut disusun. Organisasi itu bernama, Barisan Tani Indonesia (BTI).

Reporter KBR menemui Samsir Mohamad, satu-satunya anggota BTI yang terisa. Pada 1970, ia dibuang ke tanah pengasingan, Pulau Buru sembilan tahun lamanya. Begitu dibebaskan, stigma komunis terus melekat. Tak satupun keluarga yang mau menampungnya.

Namun Samsir, tak menyimpan dendam. Ia mengisahkan kepada KBR, bagaimana melanjutkan hidup pasca tragedi Oktober 1965.


Pada 2009, kami menerima kabar, Samsir Mohamad berpulang.


Nama ketiga, adalah Njoto, sering disebut sebagai otak pemberontakan dalam narasi sejarah bikinan orde baru. Tapi kisah lain tentang pemuda tinggi berkacamata ini tak banyak terungkap sebelum Soeharto tumbang. Kepada KBR, pada 2008 silam, keluarga Njoto bercerita.

Putra keempat petinggi Partai Komunis Indonesia PKI, Irina menyebut nasib bapaknya itu serba gelap. Kuburannya, jika ia telah meninggal, pun tak diketahui.

Setelah subuh 01 Oktober 1965, keluarga Njoto harus berpindah-pindah. Tak hanya itu, istri dan tujuh anaknya pun akhirnya harus merasakan pengapnya ruang tahanan. Svetlana Dayani, putri sulung Njoto, bahkan menjadi saksi hidup penyiksaan kala itu.


Meski begitu, Soetarni Soemosoetargijo, sang istri tak pernah menyesal mencintai dan menikahi Njoto. Ia berpulang, pada September 2014 lalu.


 
Nama lain yang ditemui Reporter KBR adalah Sudjinah. Saat ditemui pada 2003, Sudjinah mengenang, hari-hari setelah setelah 01 Oktober 1965 adalah hari penuh ketakutan bagi anggota gerakan kiri. Tokoh perempuan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) ini bahkan sampai empat kali ganti nama dan, empat kali pula berganti Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Sudjinah berpulang, pada September 2007.

 
Kengerian di tahun-tahun itu juga dikisahkan sastrawan Putu Oka Sukanta. Melalui puisinya yang berjudul Pendeta Yetty, penyair Lekra ini menceritakan ulang pembantaian di pelosok Nusa Tenggara Timur.

Pada 2014, Reporter KBR menemuinya. Tahun ini, kami kembali mendengarkan puisi itu dibacakan di Simposium Nasional Tragedi 1965.

Pembasmian anggota PKI dan orang-orang yang dituding berafiliasi dengan partai politik tersebut dijadikan latar karya sastra Martin Aleida. Ia melakukan itu, meski paham, karyanya akan sepi penghargaan.


Salah satu karyanya bertajuk "Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh".

"Mangku, tak sudi mati di tanah tumpah darahnya, Bali. Tidak! Hidup terlalu menyesakkan hingga dia bersumpah lebih baik mati di daratan yang jauh. Tak pernah ia bayangkan jasadnya akan diantar ke kayangan bersama api ngaben yang meliuk."

Begitu, nukilan yang diambil dari salah satu cerpennya. Martin, Veteran cerpenis Indonesia itu turut dipenjara pasca tragedi 1965/1966. Reporter KBR menemuinya pada 2014.



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!