Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. (Dokumentasi: KKI Warsi / Heriyadi Asyari)

Dua belas Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi meninggal secara beruntun dalam enam bulan terakhir. Kematian itu diduga akibat kelaparan. Tapi rupanya, persoalan utama kematian Orang Rimba adalah alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit dan karet. Hingga akhirnya, Orang Rimba kesulitan berburu. 

“Nama saya Betilang, tinggal di Bukit 12. Kalau sekarang ini aku pergi melangun, (karena) ada yang meninggal.”

Itu tadi Betilang, salah satu anggota dari kelompok Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Ia bersama kelompok Orang Rimba lainnya tengah melangun. 

Melangun adalah tradisi berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain di dalam hutan. Itu dilakukan Orang Rimba untuk menghalau kesedihan lantaran ditinggal mati.

“Itu kalau orang rimba kalau ndak melangun itu melanggar adat. Kalau (lamanya) melangun tergantung keluarga yang meninggal itu. Kadang-kadang sampai setahun, sampai dua tahun. Udah banyak yang meninggal udah 12-an. (Jadi melangunnya) lamo lah, itu kan bisa nambah terus. Aku bisa jauh. Kalau cuman satu (yang meninggal) kan bisa setahun, kalau ini nambah terus,” tambahnya. 

Kematian Orang Rimba secara beruntun dimulai sejak enam bulan lalu. Tapi paling banyak terjadi pada Januari dan Februari silam. Selama dua bulan itu, dua orang dewasa dan empat anak meninggal. 

“Iyo gara-gara airnya kotor, gara-gara Jadi kali tuh kan macam mana lah bisa minum air keracunan. Soalnyo hutan tanahnyo udah habis dibuka. Jadi di mana bae kan minum gak jelas, jadi keracunan. Yang separo itu yang anak kecil itu mati kelaparan. Karena emak bapaknya gak sempat mencari. Soalnyo itu kan boleh kata tiap hari tiap minggu melangun terus, jadi emak bapaknya gak sempat mencari, Itu yang kebanyakan mati kelaparan. Kalau melangun itu galo-galo (rombongan).” 

Kematian terakhir anak Orang Rimba terjadi pertengahan bulan kemarin. Metik, meninggal di Rumah Sakit Hamba Muara Bulian. 

Ketika anak-anak Rimba itu sakit, Taqwin, dokter di Puskesmas Durian Luncuk terjun ke lokasi. Butuh waktu empat jam dengan berjalan kaki untuk sampai. Ketika itu, ia melihat langsung kondisi anak Rimba kesakitan.

“Pada saat itu yang saya temukan yang pertama hampir seluruh yang sakit itu anak-anak balita, memang balita. Keluhan utamanya batuk dan demam. Batuknya berdahak semuanya. Kemudian yang ketiga dari semua itu memang ada beberapa kondisi anak-anak yang berat badannya kurang. Itu kalau berat badan kurang penyembuhannya jadi lama. Daya tahan tubuhnya saja sudah kurang. Gimana kalau mau sehat?” ungkap Taqwin. 

Taqwin juga bercerita, pihak Puskesmas Durian Luncuk sebetulnya ingin secara rutin memeriksa Orang Rimba. Tapi itu tak pernah terjadi lantaran tak sesuai dengan tradisi melangun. 

“Kami mau bantu baik pelayanan KB, imunisasi, yang pastinya  posisi mereka harus tetap. Jadi kita, kalau dari puskesmas saya, kami mau membantu, dari pimpinan juga mau membantu, tapi posisi mereka jangan berpindah,” tambahnya. 

Kelaparan yang menimpa Orang Rimba bukan tanpa sebab. Kominitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, pendamping Orang Rimba di Jambi menyebut, hal itu dikarenakan wilayah jelajah mereka berubah menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI). Itu terjadi sejak medio 2014 lalu. 

“Nah di lokasi mereka sekarang ini, sedang konversi hutannya menjadi HTI dan itu berarti kan tumbuhan yang ada ditebang dan diganti dengan tanaman pokok HTI. Jadi posisi mereka berada di kawasan yang di land clearing. Sehingga biasanya mereka mudah mendapat babi untuk protein, karena ada kegiatan itu dengan sendirinya tidak ada hewan buruan. Nah itu lah awal kenapa mereka dinyatakan kekurangan asupan gizi yang baik,” cerita Manajer KKI Warsi, Rudi Syaf.

Betilang bahkan bercerita, akibat hutannya disulap menjadi perkebunan sawit dan karet, tak ada lagi bahan makanan. 

“Iyo memang gak ada (buruan). Biasanya berburunya itu kan mencari apo ado . Mata pencarian udah abis, rotan, balan, karena tanahnya dibuka PT. Jadi tidak bisa lagi tempat kehidupan anak suku dalam.”

Belakangan, pasca belasan Orang Rimba meninggal karena kelaparan, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya memberikan jalan keluar.

“Nah, waktu Menteri Sosial turun itu, kontak saya lalu bertanya, ini bagaimana menyelesaikannya? Karena kan Orang Rimba punya mau tertentu yang tidak umum. Kemudian diskusi di lapangan, ternyata kawan-kawan Orang Rimba ingin kembali ke habitat. Lokasi yang diminta 114 hektar. Mula-mulanya agak berat, karena ada investasi kebun karet oleh karena itu bisa selesai. Jadinya 114 hektar akan diberikan ke Orang Rimba,” kata Siti Nurbaya. 

Kini proses pemberian lahan masih dalam tahap pembahasan teknis. 114 hektar lahan karet yang diberikan akan dipilih yang dekat dengan hutan lindung. Sehingga Orang Rimba bisa menggarap karet sambil tetap mencari makan di dalam hutan.

Sementara, Betilang, Orang Rimba berusia sekitar 24 tahun itu menaruh harap agar hutan sebagai tempat hidupnya dikembalikan. 

“Iko berharap jugo di pemerintah jugo. Karena kan banyak jugo pemerintah membantu anak suku dalam. Jadi kami berharap pemerintah jugo. Minta dibikinke lahan untuk hidup anak suku dalam. Terus untuk masalah kesehatan ..sebulan atau seminggu sekali datang memeriksokan anak suku dalam. Itu yang kami harapkan”

Editor: Antonius Eko 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!