Sinta Ratri (tengah) menyatakan menutup sementara pondok pesantrennya. Foto: Febriana Sinta/KBR.

KBR, Yogyakarta - “Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada yang membantu pondok pesantren waria dan itu sangat membanggakan kami. Dan itu sangat membuat kami terharu bahwa teman-teman waria ini tidak sendiri,” ucap Sinta Ratri tampak tenang dan dingin ketika memutuskan menutup sementara Pondok Pesantren Waria Al Fatah, akhir Februari lalu.

Keputusan itu diambil setelah diprotes ormas Front Jihad Islam (FJI), sepekan sebelumnya.

Kejadiannya terjadi Jumat, 19 Februari silam. Ketika itu, sejumlah orang berpakaian hijau dan bersorban, menggeruduk sebuah rumah tua yang berada di Kampung Celenan, Banguntapan, Bantul.

Tepat di depan pintu berwarna hijau tua itu, mereka mempertanyakan keberadaan Pondok Pesantren Waria tersebut. Pondok pesantren itu dituding menyusun Fiqih atau Hukum tentang Waria.

“Kita mengklarifikasi adanya pondok waria, mereka membuat fiqih waria. Kita keberatan karena tidak ada sejarahnya Islam fiqih waria, sejak zaman Nabi Nuh sudah ditentang dan Allah melaknatnya. Pondok dan fiqifnya, karena pondoknya untuk bertobat atau berlindungnya para waria di sini,” kata Komandan FJI wilayah Yogyakarta, Abdurrahman.

Pondok Pesantren Al Fatah menjadi satu-satunya ponpes waria di Indonesia. Mulanya, pada 2008 silam, pondok pesantren itu terletak di Ngampilan, Yogyakarta. Tapi dua tahun belakangan, mereka memindahkannya ke rumah Sinta Ratri –yang juga waria.

Rumah yang berada di gang sempit dengan dinding dipenuhi tambalan semen itu, sehari-hari dipenuhi waria dengan beragam latarbelakang. Mulai dari pengamen, pegawai salon, pelayan toko hingga pekerja LSM.

Di sana pula, mereka menggelar kegiatan; Minggu pertama, kedua dan keempat Iqra Tadarus. Sedangkan Minggu ketiga praktek, yang dilanjutkan sholat jamaah Maghrib dan Dzikir. Sinta yang juga Pimpinan Ponpes bercerita. “Jadi kegiatan kita yang rutin, Minggu sore, dan di situ kami belajar al-Quran yang belum bisa membaca, belajar iqra. Kemudian shalat jemaah magrib, lalu ada kelas membahas macam-macam tentang wudhu yang benar, bacaan shalat dan gerakan shalat yang benar. Dan kita ke jamaah isya. Lalu makan bersama dan sharing tentang berbagai masalah waria di komunitas masing-masing dan kita yakini apa yang kita lakukan adalah kebaikan. Kebaikan untuk kita semua, teman-teman waria agar mengerti bagaimana Islam dan bagaimana beribadah.”

Bahkan kata Sinta, pengajian saban Minggu sore itu dilakukan secara terbuka dan melibatkan warga sekitar. “Kita mengundang warga di sini, jadi tetangga tahu apa yang kita lakukan. Ada pengajian. Kalau Senin-Kamis itu di Bulan Ramadhan, itu kegiatan kita.”

Sehingga tuduhan Front Jihad Islam (FJI) yang menyebut pondok menyusun Fiqih Waria tidaklah benar. “Saya yang menjadi pengajar di sini, tidak pernah mengatakan bahwa… bahkan saya mengatakan kepada Ibu Sinta ‘Kalau ada orang yang mengatakan ada fiqih waria di sini maka nggak usah ada.’ Saya katakan nggak perlu, kita tak butuh fiqih waria. Tapi memberikan kenyamanan, iya itu yang kami lakukan di sini sebagai pendamping. Kami berikan kenyamanan beribadah dan pemikiran waria juga berhak ibadah? Saya pikir iya, dan tak perlu ada yang diperdebatkan di situ,” jelas Pendamping waria di pondok, Ustadz Arif.

Kini, Pondok Pesantren Al Fatah sepi. Sinta memutuskan menutup sementara pondoknya sesuai perundingan yang dilakukan Front Jihad Islam dan Kepolisian.

Sementara Kyai Abdul Muhaimin menyesalkan keputusan itu. Kata dia, selama menjadi pengasuh pondok, tidak ada satupun ajaran yang menyimpang. “Tidak ada hal-hal yang negatif. Seharusnya dibantu, dicarikan jalan keluar, diperlancar. Saya tiap hari di sini, tidak pada tempatnya. Kalau atas nama Islam, kenapa melakukan represi yang ingin menjadi muslim dengan segala keterbatasannya, enggak bener itu. Ya mereka orang ibadah harus dilindungi, diberi kemerdekaan.”

Kepolisian pun menurut dia, semestinya melindungi, bukan mengikuti kemauan kelompok intoleran.



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!