Simon Sabona, anggota laki-laki baru di Desa Toineke, NTT. Foto: KBR

KBR, NTT - “Dulu itu, laki-laki tak bisa urus anak. Perempuan yang hamil, kasih mandi, kasih suap, bawa ke posyandu, kalau anak sakit bawa ke fasilitas kesehatan. Dulu juga laki-laki sulit masak, hanya perempuan. Laki-laki kalau makan makan pinang, istrinya suruh ambil untuk suami. Jadi susah. Dan dulu itu kami pukul perempuan biasa. Karena hal yang dilakukan laki-laki itu tidak masalah. Dari dulu begitu,” cerita Simon Sabona, warga Desa Toineke, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT.

Simon Sabona, usianya sudah setengah abad lebih. Desanya, Toineke, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, menjadi daerah yang kerap dilanda kekeringan. Sejak tahun lalu, tak ada hujan. Alhasil, ia dan petani lainnya tak memanen jagung sedikit pun.

Kondisi ekonomi yang sulit ditambah kebiasaan para pria meminum ‘Laru’ –ramuan tradisional yang difermentasi sehingga menghasilkan minuman beralkohol—membuat para istri menjadi korban kekerasan. “Dan biasa mereka laki-laki di sini kalau minuman keras dari pohon lontar. Nah itu kalau pulang minum, berkelahi. Dan mulai itu kami omong mereka, minum hanya bikin terang mata bekerja bukan teler, istri jadi korban kekerasan.”

Ayah tiga anak ini juga bercerita, dulu sekitar tahun 1970-an, tak ada perempuan di desanya yang sekolah. Kalaupun ada, itu bagi orangtua yang mampu.

Kondisi itu diamini John Bolla, Koordinator Divisi Pengorganisasian Kelompok dan Advokasi di Sanggar Suara Perempuan NTT. “Jadi memang laki-laki Timor tabu dilakukan, seperti masak, cuci piring. Apalagi dia tokoh di lingkungannya. Ini memalukan luar biasa. Sekarang jadi hal biasa,” ungkap John Bolla.

Karena itulah pada 2008, Sanggar Suara Perempuan menggagas program Laki-Laki Baru. Wakil Direktur, Filpin Taneo-Therik menjelaskan, "budaya patriarki yang tertanam ini sangat kuat untuk di daratan Timor Barat. Laki-laki itu yang paling utama dan berkuasa. Sehingga ketika ada Laki-laki Baru, itu juga memberikan ruang pada laki-laki untuk belajar untuk memahami peran yang timpang mengurus anak, mencuci, memasak, yang selama ini dilakukan perempuan kita memberi kesempatan pada laki-laki. Bahwa tanggungjawab mereka itu ada,” tutur Filpin.

Dua tahun berjalan dengan menggandeng Oxfam –organisasi nirlaba dari Inggris yang berfokus pada pembangunan penanggulangan bencana dan advokasi— mereka mulai mencari para lelaki yang mau terlibat.

Hingga pada 2010, lahirlah tujuh kelompok Laki-Laki Baru di tujuh desa. Wilayah yang disasar, adalah desa yang miskin dan banyak terjadi kasus kekerasan pada perempuan. Tapi, memulainya tidaklah mudah. “Jadi kita banyak diskusi tentang laki-laki ideal menurut mereka. Dan kita lempar lagi, kira-kira yang ideal menurut mereka seperti apa? Lalu ayah idola. Selama ini kita merasa anak dan istri di bawah kekuasaannya dia. Terus dia berbuat sesuka hati. Kita mulai refleksi, apakah selama ini bapak-bapak jadi idola istri dan anak? Bagaimana mau jadi idola kalau setiap hari pukul mereka dan mabok, apakah itu idola jadi anak? Akhirnya mereka, sekarang saya sudah melepas itu semua,” jelas John Bolla.

Diskusi panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Para lelaki-laki setidaknya, mau mencoba. “Memang awalnya itu ada penolakan tapi mereka lihat dari sisi lain, akhirnya mereka terlibat langsung. Ternyata setelah disampaikan mereka pikir hal baik ini coba untuk dilakukan.”

Kini, sudah ada 240 pria yang bergabung dalam Laki-Laki Baru. Lantas, seperti apa perubahan mereka? Simak kisah bagian kedua .
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!