Jejeran kios di Pasar Santa, Jakarta (foto: Indah Afif Khairunnisa/Ririn Herlinawaty)

Jelang sore, Pasar Santa di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan menampilkan wajah yang berbeda. Jejeran café dengan alunan musik memenuhi lantai satu pasar tersebut. Anak-anak muda kemudian berseliweran menjejali satu demi satu café itu.  Ya, inilah wajah baru Pasar Santa yang tujuh tahun silam mati suri. 


Dulu, pasar yang berada di Jalan Cipaku ini jauh dari pengunjung alias sepi. Apalagi sejak ada kabar  temuan mayat di salah satu kios. Kesan angker pun melekat di Pasar Santa. 


Gairah Pasar Santa baru muncul ketika, Bambang Sugiarto, Kepala Pasar Santa, melahirkan ide memanggil para komunitas ekonomi kreatif. 


“Untuk meramaikan, konsepnya sangatlah mudah. Komunitas yang ada pangsa, itu konsepnya. Tapi dengan komunitas yang ada pangsa kita perlu kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Kita harus ikhlas nonstop melayani. Alhamdulillah, dengan adanya masuk komunitas yang disebut ekonomi kreatif, sampai sekarang Pasar Santa ramai,” kata Bambang.


Ide itu lahir ketika Bambang berbincang dengan Hendri Kurniawan, pemilik A Bunch of Coffee Dealers atau yang akrab disebut ABCD, sebuah komunitas pendidikan seputar kopi. Obrolan itu mengantarkan Hendri membuka kiosnya di Pasar Santa. Komunitas ini pun mampu menarik pengunjung yang ingin belajar meracik kopi dari seorang barista di sana.


Dan, tak perlu menunggu lama, komunitas lainnya pun ikut bergabung semisal komunitas musik SubStore dan komunitas barang antik Daivintage. Berbagai kios di sini menawarkan produk berupa barang atau makanan dan minuman unik, hingga laundry sepatu.


Bebi Febrilia, pemilik Daivintage bercerita, awalnya ia hanya membuka gerai di sebuah bazaar. Tapi, melirik ramainya kedai kopi milik Hendri Kurniawan, ia pun tertarik mengikuti jejak mereka. 


“Pertama kali tahu Pasar Santa ketika main ke SubStore dan ABCD. Dikabari ada nih Pasar Santa, mau bikin industri ekonomi kreatif, sudah ada dua toko, ABCD dan SubStore. Nyobain deh iseng, memang butuh tempat buat workshop bikin perhiasan, sambil jualan barang-barang vintage. Kalau melihat ada Substore dan ABCD di sini, bakal seru nih,” ujarnya.


Pemilik usaha makanan “Burger Hitam” atau Black Dog, Adil Azis juga sengaja membuka kios di pasar ketimbang mal. 


“Harus dikembangkan lagi. Kita (komunitas) juga mau disatukan untuk bikin tempat lagi. Jadi memanfaatkan tempat yang tadinya ‘sampah’ jadi bagus. Kalau bisa di tempat lain, nggak di pasar doang. Bisa ke taman atau tempat publik lain yang lebih organik,” ungkap Adil.


Pasar Santa luasnya 10 ribu meter persegi, dibagi menjadi tiga lantai; basement untuk pedagang sembako, lantai dasar untuk produk tekstil dan lantai satu khusus ekonomi kreatif. 


Dari catatan Bambang, jumlah pengunjung pasca adanya produk ekonomi kreatif terus bertambah. Mulai dari pelajar, mahasiswa sampai eksekutif muda. Kata dia, pengunjung tertarik dengan konsep yang ditawarkan, terutama desain kios yang disulap dengan beragam karakter dan warna. 


“Tahu Pasar Santa pertama sih televisi, dengar juga dari orang katanya tempatnya asik, banyak makanan. Jadi pengen dateng,” kata Rode, salah seorang pengunjung. 


Ia mengapresiasi tempat seperti ini yang menurutnya jadi alternatif untuk mencari hiburan. “Nongkrong nggak harus di mall. Kalangan biasa pun bisa nongkrong di sini,” tambahnya.


Pengunjung lainnya, Jeje, pelajar SMA dari Kota Depok ini juga kerap berjunjung ke Pasar Santa dengan kawan-kawannya. Kata dia, Pasar Santa kini lekat dengan jiwa anak muda.


 “Dari kakak dan teman-teman juga. Makanannya enak-enak. Anak muda banget. Bagus. Kreativitasnya tuh teraplikasikan,” katanya.


Editor: Antonius Eko  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!