aceh, toleransi

Rosnida Sari, Dosen UIN Ar Raniry Aceh diganjar sanksi dari kampus tempatnya mengajar. Kecaman hingga ancaman pembunuhan memaksanya bersembunyi sementara waktu. 

Atas nama penegakan syariah Islam, sejumlah pihak menudingnya melakukan pemurtadan karena membawa mahasiswinya berkunjung ke gereja. Namun, suara pembelaan keluar dari anak didik dan kawan seperjuangan. 

Awal bulan November 2014, sepuluh mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh mendatangi Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB). Salah satu mahasiswi, Elka Sianeri bercerita apa yang mereka lakukan di sana.

“Kami mendengarkan, kami kan belajar studi jender dalam Islam. Kadi kami ke sana itu tujuannya untuk membandingkan jender Islam dengan jender agama lain,” papar Elka. 

Ketika Elka dan teman kampusnya ke gereja, mereka didampingi dosen Rosnida Sari.

“Sebenarnya kan diajak kami ke sana tidak dipaksanya. Tidak misalnya dibilang kalau kalian tidak pergi ke gereja, bahwasanya kalian akan misalnya, nilai kalian diiniin, dijelekin, akan tetapi sukarela kami sendiri tidak ada paksaan dari Bu Rosnida Sari.”

Pendeta Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB), Domi mengatakan, menerima mahasiswi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, adalah suatu hal yang jarang terjadi di tanah Serambi Mekkah. 

“Saya melihat responnya cukup baik, paling tidak mereka ada keinginan untuk mau tahu. Dan itu kan mahasiswa, wajarlah kalau mereka bertanya tentang kekristenan, yang kebetulan memang mereka barangkali belum pernah tahu, dan belum pernah mengalami kayak gini datang ke gereja, Memang dalam konteks Aceh, kunjungan ke gereja barangkali sesuatu yang sulit dilakukan, barangkali jarang dilakukan,” kata Doni. 

Tapi rupanya, pertemuan selama sejam itu memunculkan persoalan. Rosnida dianggap melakukan permurtadan. Bahkan, masyarakat Aceh menilai tindakannya bertentangan dengan syariah Islam. Mahasiswi Rosnida, Elka pun tak luput dari cercaan.

“Tapi yang seperti di media sosial, kan kami banyak komentar bahwa kami itu seperti mahasiswa bodoh yang mau mengikuti kata dosennya.”

Pasca kejadian itu pula, Rosnida mendapat ancaman pembunuhan. Kampus tempatnya mengajar juga menjatuhkan sanksi administrasi. Dekan Fakultas Dakwah Abdul Rani Usman mengatakan, seluruh mahasiswa Rosnida dialihkan ke dosen lain.

“Nggak lama, paling itu seperti orang nggak masuk kantor, dsb, mungkin tiga bulan. Bukan sanksi seperti yang didengarkan. Itu kan ada aturan main, seorang dosen, PNS, ada aturan main semuanya. Dan itu semua wewenang rektor, bukan wewenang fakultas,” klaim Abdul Rani. 

Menurut Abdul, pihak kampus tak melarang kegiatan Rosnida. Hanya saat itu, alumni Universitas Flinders Australia Selatan tersebut tidak meminta izin terlebih dahulu untuk melaksanakan kegiatan ke gereja. 

Sesungguhnya, Rosnida Sari ingin mengajarkan kepada mahasiswinya tentang satu hal. Dalam tulisannya di Australiaplus.com, ia mau mengajak muridnya melihat relasi laki-laki dan perempuan di agama mereka dan agama lain. Selain itu, Rosnida juga ingin melenyapkan prasangka buruk dalam diri mahasiswinya hanya karena berbeda agama. 

Niat itu rupanya sudah muncul ketika dirinya berada di Adelaide dan tinggal dengan warga lokal yang mayoritas Kristen. Rosnida bercerita, ia kerap datang dan mengikuti beberapa kegiatan gereja yang digawangi oleh ibunya  yang menggelar kegiatan amal. 

Ancaman pembunuhan kepada Rosnida bukanlah isapan jempol. Hingga sekarang, ia masih memutus komunikasi dengan orang lain pun kawannya, Pendeta Domi. Hanya sekali, Domi berkomunikasi dengan Rosnida, itu pun lewat pesan pendek. 

Perjumpaan di gereja itulah, terakhir kali mereka bertemu muka. 

“Saya mendengar kayak gitu, saya sebetulnya cukup khawatir. Bagaimana tidak, karena saya tahu bahwa orang ini bukan orang yang murtad, orang ini orang cerdas, orang yang jujur, tulus, yang memang semata-mata mau membangun persaudaraan. Lalu ada makian di online kayak gitu, lalu ada gerakan usaha yang kayak begitu, saya khawatir sebagai kawan.” 

Namun, Domi yakin Rosnida yang dikenalnya sejak dua tahun lalu, siap menghadapi segala risiko. Ia justru memandang kejadian ini menjadi batu loncatan untuk perubahan di bumi Serambi Mekkah.

“Saya melihat ini sebagai sesuatu yang positif. Kenapa? ya akhirnya kan jadi wacana. Yang tadinya semuanya dianggap fine-fine aja, pemerintah Aceh bilang, nggak kami toleran, tapi begitu ada kayak begitu, nah, apa gimana? reaksinya. Ini sesuatu yang positif, bagian dari usaha, usaha saling pengertian dan persaudaraan dan bukan betul-betul usaha pemurtadan. Jadi memang untuk melakukan suatu perubahan, harus ada keberanian.” 

Sementara mahasiswinya, Elka Sianeri mencoba meyakinkan, dosen perempuannya itu tidak seperti yang ditudingkan.

“Ibu Rosnida Sari tidak menanamkan nilai-nilai agama lain, pokoknya tidak melenceng dari akidah agama kita sendiri. Dia mengarahkan kami ke gereja, sampai di sana dia cuma membimbing kami,” bela Elka. 

Editor: Antonius Eko 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!