tarian, kekerasan perempuan, Billion Rising Revolution

KBR, Jakarta - Malam itu, di sebuah ruangan di Kalibata City, Jakarta Selatan, puluhan orang berlatih menari. Tubuh mereka seperti melayang di udara. Kaki, tangan, kepala mereka meliuk-liuk dengan lenturnya. Mereka menari bukan tanpa tujuan, tapi ada pesan yang ingin disampaikan.


Satu dari puluhan orang yang menari itu, namanya Margareta Saulina. Perempuan berambut ikal itu tampak serius mengikuti tiap gerakan. Ia datang bersama anaknya yang berusia satu setengah tahun. 


Margareta dan puluhan orang lainnya tengah mempersiapkan diri untuk suatu gerakan global, namanya 1 Billion Rising Revolution. Pesan dari gerakan global itu adalah melawan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Caranya menyampaikan dengan menari. Karena dengan menari manusia bisa leluasa berekspresi dan menggerakan tubuhnya secara bebas sesuai keinginannya tanpa paksaan orang lain. 


“Yang pasti karena saya perempuan, solidaritas yang terutama karena saya tidak mau menjadi korban terhadap perempuan lain yang menurut saya saudara saya. Kali ini saya bisa ikut latihan karena tahun lalu walaupun kayaknya banyak cuma tidak semarak sekarang,” kata Margareta. 


Selain Margaret ada juga Alfa Mahendra. Lelaki 32 tahun itu punya alasan sendiri mengapa ikut bergabung dengan gerakan tersebut.


“Banyak alasan untuk ikut ini, karena semakin hari problem soal kekerasan terhadap perempuan dari banyak hal. Itu makin lama makin terlihat banyak. Tetapi di sisi lain, semakin banyak juga orang yang sadar akan situasi yang seperti ini dan kekerasan fiksi dan kekerasan seksual adalah suatu hal yang salah. Makanya saya ikut juga kampanye ini agar kesadaran meluas,” papar Alfa. 


Pria yang pekerja lepas itu juga mengatakan, salah satu rantai masalah yang mendiskriminasi adalah munculnya Peraturan Daerah yang tak ramah terhadap perempuan. 


“Misalkan soal perda banyak juga perda yang diskriminasi yang melarang keluar di malam hari justru itu membuat si perempuan jadi terkekang. Hukuman yang diterima juga rendah terhadap pelaku (kekerasan, red),” tambahnya. 


Andi Gunawan, salah satu pelatih  mengatakan, musik yang mengiringi tarian itu diciptakan 1 Billion Rising pusat yang berada di Amerika Serikat. Sementara gerakannya, dibuat sendiri. Tujuannya supaya lebih mudah diikuti. 


Tapi, tiap gerakan mengandung arti tersendiri. Ia mencontohkan kedua tangan direntangkan ke atas melambangkan kebebasan berekspresi. Kedua tangan disilangkan di dada dan dilepaskan tanda perlawanan.


“Setiap gerakan ada simbol-sibol melambangkan kebebasan tubuh bagaimana kita berekpresi bagaimana kita berkata tidak bagaimana kita melawan.”


Koordinator 1 Billion Rising Indonesia, Evi Sri Handayani mengatakan, sosialisasi aksi ini dimulai sejak Desember 2014. Nantinya kegiatan tersebut digelar di Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 14 Februari 2015. Ratusan orang dipastikan ikut serta. 


Kata dia, pesan anti-kekerasan terhadap perempuan sengaja dibawakan dengan tarian karena mudah diterima berbagai kalangan.


“Karena menari itu kita bebas berekspresi karena menari adalah bergerakan. Kamu bebaskan tubuhmu, dan itu hak mu untuk menggerak tubuhmu itu otoritas diri kita orang tidak boleh menyentuh tanpa persetujuan kita, kita bebaskan diri kita.”


Ia berharap dengan adanya kampanye ini, masyarakat akan lebih sadar bahwa kekerasan terhadap perempuan bukanlah persoalan domestik, tapi persoalan bersama. 


“Intinya kita pengen orang-orang itu peduli terhadap perempuan dan kekerasan terhadap perempuan tidak boleh terjadi lagi perempuan tidak layak mendapatkan perlakuan seperti itu,” pungkas Evi. 


Editor: Antonius Eko 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!