Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan sabutan saat puncak Haul ke-4 Gus Dur di Pondok Pesantr

Haul, Gus Dur, Toleransi, Minoritas, Agama

Kesan kepada Gus Dur


Sejumlah tokoh nasional dari berbagai kalangan ikut hadir di acara peringatan empat tahun  wafatnya bekas Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur di Ciganjur, Jakarta. Salah satunya adalah bekas Ketua Umum Partai Golkar, Akbar Tanjung. Bekas menteri di era pemerintahan Orde Baru dan Ketua DPR itu menyampaikan kesannya pada sosok Gus Dur.

"Dasar-dasar yang penting dalam konteks kemajemukan kita sebagai  bangsa. Kita mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara yang besar,  negara yang majemuk, Bhineka Tunggal Ika dijadikan sebagai salah satu  pilarnya. Dan Gus Dur lah yang mengajari kita terhadap dasar-dasar  dari kemajemukan. Karena itu beliau selalu kita kenang sebagai seorang  tokoh yang memperlihatkan komitmennya dalam memberikan apresiasi  kepada seluruh potensi bangsa walaupun memiliki latar belakang yang  berbeda-beda." jelas Akbar.
 
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto juga terlihat hadir. Bekas Komandan pasukan elite TNI, Kopassus di masa pemerintahan Soeharto itu ikut menyampaikan pandangannya. “Sebetulnya saya anggap beliau ini jenius. Seorang yang brilian. Seorang yang bisa banyak bicara tanpa menggunakan teks secara mendalam  dan secara arif. Beliau sejak muda adalah seorang yang bijaksana. Itu  kesan saya terhadap Gus Dur. sejak muda beliau punya dedikasi besar  terhadap demokrasi,"jelasnya.

Dia menambahkan, "Beliau sangat brilian sehingga pemikiran beliau berada puluhan tahun  di depan kita. Kita kadang-kadang tak mengerti pemikirannya Gus Dur.  Bahkan sempat juga Gus Dur dituduh macam-macam. Antara lain dituduh  sebagai anteknya Israel, anteknya Zionis. Padahal beliau punya  pemikiran jauh ke depan. Bahwa semua kalangan, semua umat di dunia  harus saling menghargai dan menghormati.

Komitmen dan perjuangan Gus Dur pada Islam sebagai agama yang menyejukan dan toleran tegasnya patut diteladani. "Komitmen beliau, dedikasi beliau kepada demokrasi, membawa kita  kepada Islam yang sejuk, Islam yang moderat, Islam yang mengasihi  semua suku dan semua agama, Islam yang tidak membesarkan kebencian, Islam yang enklusif,  dan Islam yang menenangkan," kata Prabowo.

Bekas ajudan Gus Dur saat menjabat sebagai Prisiden dan kini ditunjuk sebagai Kepala Kepolisian Indonesia, Sutarman  menyampaikan kesaksian. "Gus Dur adalah seorang ulama, ahli agama, seorang kyai yang  mendirikan partai politik, akhirnya dia menjadi presiden, dan akhirnya  pula saya menjadi ajudannya. Sehingga saya mengenal beliau saat beliau  menjadi presiden. Banyak pelajaran yang disampaikan oleh beliau," katanya.

Dia menambahkan, "Kiblat kita berbicara, kiblat kita memimpin--memimpin keluarga,  memimpin masyarakat, dan memimpin negara kita adalah Junjungan Nabi  Besar kita Muhammad SAW. Oleh karenanya, saya kira cara yang  diterapkan oleh Gus Dur mencontoh bagaimana Nabi kita memimpin umat,  memimpin keluarga, memimpin negara, dan memimpin kita semuanya.  Sehingga kejujuran yang ditampilkan, keberanian yang ditampilkan, dan  seluruh yang ditampilkan adalah mencontoh."

Lain lagi pengalaman yang diungkapkan  Basuki Tjahaya Purnama. Wakil Gubernur Jakarta ini mengaku mengenal Gus Dur saat ia mencalonkan diri sebagai Gubernur di Provinsi Bangka Belitung. Saat itu kenang Ahok, Gus Dur kerap menyemangati dan memberi dukungan.  "Tentu saja saya sangat yakin, bahwa Gus Dur sangat mempengaruhi pola  pikir saya dalam berpolitik. Dan saya juga masih ingat waktu itu, ada  tim sukses saya menyampaikan, bagaimana kalau Pak Ahok jadi mualaf  saja supaya bisa menang menjadi Gubernur Bangka Belitung. Apalagi yang  memualafkan Gus Dur. Tapi apa? Gus Dur tidak pernah mengizinkan," jelasnya.

Salah satu sikap Gus Dur yang patut diteladani, kata politikus Akbar Tanjung adalah toleransinya. Ia berharap calon pemimpin negeri ini meneruskan warisan tersebut.  "Dan di sinilah salah satu kekuatan Almarhum beliau, dan ini tentu  saja kita harapkan dapat diteruskan oleh penerus-penerus beliau.  Karena kita harus mampu melihat bahwa kemajemukan bangsa itu justru  merupakan salah satu sumber kekuatan kita sebagai bangsa. Bagaimana  dari kemajemukan itu kita bisa membangun sinergi, dan sinergi itu akan  memberikan bantuan kepada negara kita di masa mendatang," katanya.

Politikus lainnya Prabowo ikut menimpali. "Karena itulah yang kita harapkan. Seorang pemimpin umat yang bisa  memberi kesejukan, memberi rasa damai, memberi rasa aman kepada semua  suku, semua agama, dan semua kelompok etnis yang ada. Tidak hanya di  Indonesia, tapi di seluruh dunia."

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!