Pakar Energi Lucky A Lontoh: Indonesia Sangat Ketinggalan Energi Terbarukan Tapi Ambisinya

Kita akan dipungut 200 hingga 300 rupiah dari setiap liter penjualan BBM.

Kamis, 24 Des 2015 15:00 WIB

Ilustrasi. (Setkab)

Ilustrasi. (Setkab)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Kemarin, pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga Premium dan Solar. Untuk Premium turun Rp 150/liter, sedangkan solar turun Rp 800/liter. Keputusan ini baru berlaku 5 Januari 2016.

Nah, dengan turunnya harga minyak dunia ini pun, menjadi kesempatan pemerintah untuk menyertakan pungutan pada harga BBM. Jadi nanti, kita akan dipungut 200 hingga 300 rupiah dari setiap liter penjualan BBM.

Misalnya nih, Solar yang semula Rp 6700 harga keekonomiannya menjadi Rp 5650 tapi kemudian ada tambahan Rp 300 per liter dari setiap orang yang membeli, sehingga harga baru Rp 5950 perliter. Menurut Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral, Sudirman Said, hal ini dilakukan untuk pengembangan energi terbarukan.

Nah, apa kata Pakar Energi Lucky A Lontoh terhadap kebijakan baru dari pemerintah ini..? 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

BSN Sebut Hasil Uji Beras Sudah Sesuai Ketentuan

  • Menteri Sri: Swasta Jangan Mengeluh, Datangi Kami Biayai Infrastruktur
  • Asuransi TKI Cilacap Meninggal Kecelakaan Kerja Di Korsel Terkendala Dokumen
  • Tiga Bulan Menjabat, Popularitas Macron Terjun Bebas

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.