Pengamat: Jaringan Teroris Yang Muncul Pada Aksi 212 Ada Kaitan Dengan ISIS

Rabu, 30 Nov 2016 18:15 WIB

DPO Teroris Poso Sulawesi Tengah. (Antara)

DPO Teroris Poso Sulawesi Tengah. (Antara)

Aksi damai 2 Desember, tinggal menghitung hari. Aksi yang menginginkan penahanan Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama, ditakutkan bakal ditunggangi oleh teroris. Kelompok tersebut kemungkinan akan memanfaatkan momen tersebut.

Menurut Pengamat Terorisme, Ansyad Mbai, gerakan terorisme kemungkinan akan muncul pada aksi damai 212. Jaringan yang melakukannya, kata Ansyad, sebenarnya, sudah digulung. Tapi apakah semua sudah ditangkap, inilah yang belum diketahui dan harus diwaspadai. Menurut prediksinya, kelompok Majalengka dan Samarinda akan muncul pada 2 Desember nanti. Kedua kelompok ini, sudah ada link dengan ISIS.

“Masalah terorisme tak bisa dilihat kasus per kasus tapi ini masalah jaringan transaksional dan ada keterkaitan dengan negara lain. Mindset kita, seakan-akan ISIS itu jauh, padahal ISIS itu ada di negara kita dan pendukungnya banyak dan berkembang. Mereka ingin negara kita berubah jadi Khilafah,” ujar Ansyad. Simak quote selengkapnya. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.