Cendekiawan muslim Prof Ahmad Syafii Maarif. (Foto: kotabogor.go.id/Publik Domain)


KBR, Jakarta - Cendekiawan muslim Prof Ahmad Syafii Maarif menyerukan semua pihak untuk waspada dan berhati-hati terhadap pihak-pihak yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan negara Islam atau khilafah.

"Negara ini, negara saya, negara Anda, negara kita yang kita cintai ini jangan sampai tenggelam karena pengkhianatan anak-anak bangsa, yang ingin mengganti ideologi Pancasila," kata Buya Syafii saat menjadi pembicara kunci di acara Semiloka "Indonesia di Persimpangan", di Hotel Aryaduta, Sabtu (8/4/2017).

Buya Syafii, begitu ia biasa dipanggil, mengatakan sejak Indonesia merdeka tahun 1945, dasar negara Indonesia tidak pernah berganti. Meski ada perubahan konstitusi di tahun 1950, namun ideologi Pancasila tetap menjadi dasar negara.

Sayangnya, kata Buya, Pancasila masih menggantung di awang-awang. Nilai-nilai dari Pancasila, seperti 'keadilan sosial' belum terwujud di masyarakat.

"Masih banyak kesenjangan, rakyat masih bergumul dengan kemiskinan, korupsi, dan lain-lain. Dalam kondisi ini, muncullah misguided Arabism, Islam yang salah jalan," kata Buya Syafii.

Paham "Islam salah jalan" itu, kata Buya, diperlihatkan dengan munculnya kelompok-kelompok radikal seperti ISIS, Boko Haram, dan lain-lain. Kelompok-kelompok itu terus mendapat simpati dan pengikut, meski ajarannya menyimpang.

"Ini disebabkan karena adanya kesenjangan tajam di masyarakat. Jadi upaya deradikalisasi seperti apapun tidak akan efektif jika Pancasila tidak dibawa turun membumi di masyarakat," kata Buya Syafii.

Bekas ketua umum PP Muhammadiyah itu mengatakan prihatin dan lelah dengan kondisi di Indonesia, dimana umat terpecah-belah, sesama umat saling menghujat dan merasa paling benar dalam beragama.

"Suriah sudah hancur, Irak juga. Lalu Libya, dan Afghanistan juga. Karena umat terpecah. Kita boleh saja menyalahkan Amerika atau negara Barat di balik itu. Tapi negara Barat bisa masuk itu karena masyarakat Islam rapuh dari dalam," lanjut Buya.

Buya Syafii menyebut kelompok-kelompok radikal itu menganut 'teologi maut', dimana kelompok ini menggunakan jargon-jargon mati syahid atau keutamaan mati.

"Mereka ini berani mati karena tidak berani hidup. Teologi maut ini memonopoli kebenaran. Masa dibiarkan begini? Negara tidak boleh kalah melawan mereka," kata Buya Syafii.

Sayangnya, kata Buya, mayoritas umat Islam atau masyarakat Indonesia lebih banyak diam. Seolah-olah tidak berdaya menghadapi kelompok radikal yang ingin mengganti Pancasila.

"Padahal kelompok sempalan ini, yang ingin mengganti Pancasila, jumlahnya kecil saja. Tapi mereka bersuara lantang, sementara mayoritas diam. Kelompok ini pengikutnya tambah banyak. Kalau tidak hati-hati, bisa kacau negara," tambah Buya.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!