Ilustrasi.  (KBR)

Ilustrasi. (KBR)

Kamu masuk universitas negeri saja!,” begitu saran orangtua saya saat saya lulus SMA.

Ketika mendengar kata ‘universitas negeri’yang muncul dalam benak saya adalah sebuah universitas yang isinya mahasiswa yang mayoritas muslim. Orang beragama lain seperti saya pasti jumlahnya sangat sedikit. Bukan berarti selama saya sekolah di SD sampai SMA saya tidak punya teman yang agamanya berbeda dengan saya. Tapi, sejak SD sampai SMA teman-teman di sekolah saya kebanyakan agamanya sama dengan saya. Jadi, kami adalah kaum mayoritas.

Nah, jika saya lulus di universitas negeri, saya pasti menjadi kaum minoritas. Saya takut saya tidak bisa diterima dalam pergaulan. Saya takut dihina dan dikucilkan. Walaupun ada perasaan takut tersebut, saya tetap mencoba ikut tes masuk universitas negeri. Rupanya saya lulus tes!

Saat pertama kali menginjakkan kaki ke gedung universitas tempat saya harus mendaftar ulang, saya merasa sangat gugup. Waktu itu sudah banyak mahasiswa baru yang datang untuk mendaftar ulang.

Saya melihat ke kanan-kiri. Tak ada yang saya kenal. Teman-teman SMA saya yang lulus ke universitas yang sama tidak nampak batang hidungnya. Jadilah saya celingak-celinguk sendiri, mendaftar ulang di tempat yang saya rasa tidak bersahabat kala itu. Saya merasa sangat asing berada di tempat yang mayoritas mahasiswanya muslim, yang perempuannya rata-rata memakai jilbab, dan yang laki-lakinya ada yang memakai baju muslim. Sungguh suatu pemandangan yang sangat asing, mengingat saya berasal dari SMA swasta dan tidak pernah melihat pemandangan seperti itu. Saya merasa ciut.

Halo, kamu masuk jurusan apa?” sapa seorang perempuan, membuat saya terkejut.

Dengan tatapan curiga, saya membalas sapaannya, “Oh, saya masuk jurusan Matematika di Fakultas MIPA. Kalau kamu?

Wah, sama, dong! Saya juga masuk jurusan itu. Ayo kita mendaftar sama-sama,” katanya.

Akhirnya, saya bersama anak perempuan yang baru saya kenal itu mendaftar ulang bersama-sama. Namanya Elis. Inilah awal-mula saya bersahabat dengan seseorang yang agamanya berbeda dengan saya. Selain itu, dia berjilbab! Sungguh saya tidak pernah menyangka akan bisa bersahabat dengan seseorang yang agamanya berbeda dengan saya.

Saya ingat waktu masuk kuliah pertama kali. Ada suara bisik-bisik dari beberapa mahasiswa saat melihat saya. “Cina! Cina! Lihat, ada Cina!” begitu kata mereka. Orang yang beragama Buddha seperti saya disebut ‘Cina’. Mendengar itu, perasaan sedih, marah, takut, dan kesal bercampur menjadi satu. Kalau saya marah, saya pasti dikucilkan. Tetapi, jika saya diamkan, saya akan semakin dijadikan bulan-bulanan.

Waktu itu, saya baru kenal dengan Elis yang Muslim. Saya masih takut untuk bergaul dengannya. Ditambah mendengar orang memanggil saya ‘Cina’, saya semakin tidak percaya diri. Tapi, Elis tidak seperti orang-orang itu. Elis tetap berteman dengan saya. Ia mengajak saya mengobrol. Kami mengerjakan tugas bersama. Di kelas, kami duduk bersebelahan. Lambat laun, tak ada lagi yang orang yang mengolok-olok dengan sebutan ‘Cina’. Saya bisa berbaur dengan teman-teman yang berbeda agamanya dengan saya. Sahabat saya pun bertambah. Saya juga punya sahabat yang beragama Kristen dan Katolik.

Sampai sekarang, saya masih bersahabat dengan Elis. Walaupun kami tidak tinggal di satu kota lagi, tapi kami tetap berhubungan melalui telepon atau SMS. Saya tidak takut lagi berteman dengan orang-orang yang agamanya berbeda dengan saya. Saya pikir, orang-orang bisa bersahabat bukan karena agamanya, tetapi dari hatinya. Tak peduli agama apapun, jika hatinya baik, maka dia bisa bersahabat dengan siapapun.


Diambil dari buku “Dialog 100: 100 Kisah Persahabatan Lintas Iman” (penerbit: Jakatarub & Interfidei, 2013). 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!