Ilustrasi. (KBR/Ridlo)

Ilustrasi. (KBR/Ridlo)

Di tahun 2010, saya termasuk salah satu dari sepuluh orang yang berhasil mendapatkan beasiswa untuk program Master Language and Communication Technology. Dari semua negara yang tergabung dalam program tersebut, saya dikirim ke Malta, sebuah negara-pulau yang namanya bahkan tidak pernah saya dengar sebelumnya dan ukurannya begitu kecil sehingga tidak kelihatan di peta.

Malta adalah negara yang bisa dibilang eksotis, terletak di bagian selatan Eropa dan dikelilingi laut Mediterrania, dengan 98% penduduknya beragama Katolik. Bersama saya ada tujuh orang lainnya dari program studi yang sama; semua dari negara berbeda, dengan bahasa ibu, warna kulit, dan tentu saja, agama berbeda pula.

Menjadi muslim di sana tidaklah senyaman di Indonesia–di mana saya termasuk ke dalam golongan mayoritas, makanan halal gampang dicari, masjid ada di mana-mana–tapi tidak berarti sulit juga karena semua orang sangat toleran. Saat salah satu kuliah saya mengambil seluruh waktu maghrib, dosen saya tidak keberatan memberi saya waktu istirahat lebih panjang untuk sholat. Saat kami berkumpul dan teman-teman saya minum wine, selalu ada jus jeruk untuk saya.

Di semester kedua saya di sana, saya dan tiga orang lainnya tergabung dalam kelompok yang sama untuk sebuah proyek kuliah. Proyek itu lumayan berat dan sering kali memakan waktu dari pagi sampai pagi lagi–mungkin fakta bahwa kami adalah tukang menunda-nunda pekerjaan juga tidak terlalu membantu, beberapa kali seminggu, selama hampir tiga bulan.

Kami selalu mengerjakannya di aparteman Milos, yang letaknya cukup jauh dari aparteman saya sendiri, sehingga agak repot kalau sudah saatnya saya sholat. Saya ingat saya merasa agak rikuh ketika pertama kali bertanya padanya apa saya boleh menumpang sholat di sana, mengingat tak ada orang lain di kelompok kami yang beragama Islam. Tapi nyatanya, tak seorangpun keberatan. Setelah itu, setiap sedang mengerjakan proyek tersebut saya selalu menumpang sholat di kamar Milos. Milos sendiri adalah seorang ateis.

Tahun itu saya melihat perbedaan latar belakang kami semakin lama semakin menyusut. Kami mengeluhkan tugas kuliah yang sama, menertawakan lelucon yang sama, dan di tempat yang begitu jauh dari keluarga, mereka menjadi keluarga baru saya. Kami tetap bisa berjalan bersama dalam damai, seorang muslim dan ateis, di negara yang sebagian besar penduduknya beragama Katolik.

Saya rasa kita punya kecenderungan untuk mengkotak-kotakkan orang. Muslim. Katolik. Ateis. Gay. Lesbian. Asia. Kaukasia. Seolah dengan tahu agama atau orientasi seksual atau negara asalnya, kita bisa langsung mengenal orang itu. Oh, seperti inilah seorang ateis berpikir. Oh, seperti inilah seorang muslim berpikir.

Namun pada akhirnya, saya menemukan bahwa perbedaan agama tidaklah jauh berbeda dari perbedaan selera musik atau pandangan politik. Dan sama seperti kita tidak bisa menilai seseorang dari selera musiknya saja, kita juga tidak bisa menilai seseorang dari agamanya (atau ketiadaan agamanya) saja.

Selama dua tahun tinggal di Eropa (saya pindah ke Belanda di tahun kedua), tidak sekalipun saya pernah mendapat perlakuan berbeda hanya karena agama yang saya anut waktu itu. Carl Sagan, astrofisikawan favorit saya, pernah berkata: If a human disagrees with you, let him live. In a hundred billion galaxies, you will not find another. Saya dan teman-teman lainnya sangat sering berbeda pendapat. Kami berdebat tentang kuliah, musik, film, ada tidaknya Tuhan. Namun terlepas dari semua perbedaan itu, kami tetap bisa berteman baik dan kami masih berteman baik sampai sekarang.


Diambil dari buku “Dialog 100: 100 Kisah Persahabatan Lintas Iman” (penerbit: Jakatarub & Interfidei, 2013). 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!