Ajarkan toleransi sejak dini (Foto: jalandamai.org)

Ajarkan toleransi sejak dini (Foto: jalandamai.org)

Ulangan PPKN waktu SD, ada soal yang bunyinya seperti ini:

Budi dan Wawan berteman. Mereka ingin bermain bersama-sama. Budi beragama Islam, dan Wawan beragama Kristen. Kemudian terdengar suara adzan, Budi meminta izin pada Wawan untuk melaksanakan ibadah sholat terlebih dahulu, maka Wawan sebaiknya...

a. Melarangnya

b. Marah

c. Mengizinkannya.

Tentu saja saya memilih jawaban C.

Saat SMA, di televisi muncul berita rumah ibadah suatu agama diserang oleh umat agama lain. Itu benar-benar aneh. Bukankah kalau itu jadi soal ulangan anak SD, jawaban yang benar adalah mengizinkannya kemudian hidup damai sejahtera?

Waktu itu saya sadar bahwa saya hanyalah remaja bau kencur yang masih minta uang jajan ke orangtua. Namun mengapa para orangtua ini bertikai mengatasnamakan agama? Bukankah katanya kita harus menerapkan toleransi umat beragama–bukan berarti mencampuradukkan agama. Saya mulai meragukan diri sendiri, mungkinkah otak saya masih selevel sama anak SD.

Di tengah bangsa yang sedikit-sedikit berselisih bawa-bawa nama agama ini, ada ruangan kecil di sekolah negeri kecil, di sebuah kota yang juga kecil, namun hidupnya serasa Bhinneka Tunggal Ika. Selama tiga tahun saya berada di kelas itu bersama 21 orang lainnya. Kelas kami berjumlah kecil dan agak cupu. Namun kami merasa sebesar bangsa Indonesia.

Saya dan 14 orang lainnya adalah muslim. Berpuasa rame-rame di bulan Ramadhan. Saat istirahat biasanya jajan-jajan centil atau rakus makan mie goreng. Kali ini jadi berkumpul di kelas ngerjain soal-soal latihan atau sekadar berbincang tentang cuaca. Kami heboh berbicara dan tertawa bersama, seheboh suara grasak grusuk di kolong meja guru yang terletak di depan kelas.

Saya dan teman-teman melongok ke balik meja dan menemukan seseorang duduk disana. Melongok kaget ke atas, isi makanan belum terkunyah, bekal makan dari rumah. Setelah hening beberapa saat, dia minta maaf karena sudah kepergok makan. Kalau ini ulangan PPKN SD, pertanyaannya adalah: apa yang sebaiknya kami katakan? dan kami hanya bisa tertawa.

Stenny bukan muslim. Dia tidak puasa dan berhak makan. Demi toleransi kepada kami yang puasa, dia diam-diam makan lesehan di bawah meja dengan bekal dari rumah. Kemudian dia meminta maaf karena ketahuan.

Rasanya kami ingin memeluknya dan menangis bahagia. Apa hak kami melarangnya? Bukan, bukan itu. Tapi tegakah kami membiarkannya makan di bawah meja? Tentu tidak. Dia berhak dapat posisi makan yang lebih pantas. Kami sudah cukup dewasa untuk puasa tanpa harus ngiler melihat orang lain makan. Niatnya untuk menghargai kami tentu harus dibalas dengan menghargai hak-haknya juga.

Dia pantas untuk makan di meja dan kursi meski berada dalam jangkauan pandangan kami. Stenny tidak perlu meminta maaf. Saat saya tertawa itulah, saya sadar, saya bukan anak SD. Tapi kami berusaha terus menjaga nilai menghargai yang diajarkan saat SD.

Kami sebesar bangsa Indonesia, hanya saja lebih rukun. Di sekoleh itu, kami sekolah Senin sampai Sabtu. Tapi David dan Stenny tidak pernah bisa datang ke sekolah pada hari Sabtu. Mereka berdua penganut Advent. Lantas, bagaimana materi bahkan nilai-nilai mereka? Kami tidak pernah mempermasalahkannya, banyak yang rajin mencatat materi di kelas, nantinya bisa dipinjamkan pada mereka. Mereka bahkan boleh ulangan susulan. Bahkan, ada pelajaran yang hanya hari Sabtu pun, guru akhirnya bersedia waktu khusus di hari lainnya. Salahkah seperti ini? Tidak. Solusi ini tidak memberatkan siapapun.

Saat Natal, kami berkunjung ke teman yang merayakan. Ini bukan tentang makanan yang boleh kami cicipi atau tidak, ini tentang berhubungan baik dengan orang lain. Kami ke rumah Adit, dan anjingnya terpaksa diikat agar tidak menghalangi kami yang muslim berjalan. Bahkan jika sebagian kami tidak dapat mengucapkan selamat natal, kunjungan ini menjadi kunjungan pertemanan. Setidaknya berkumpul bersama sahabat yang kebetulan saat Natal. Masih terasa hangat saat di suatu Natal, bapak teman kami berkata, "Silakan, tak apa. Ini halal." Inilah yang namanya toleransi dan menghargai antarumat beragama kan?

Nina beragama Buddha, Dian beragama Hindu. Saat buka bersama Ramadhan satu sekolah, sementara kami sholat maghrib, Nina dan Dian menyiapkan makan besar kami. Dibantu David dan Adit yang bolak balik mengangkut jatah makan kelas kami dari pusat sekolah. Mereka memastikan semuanya siap saat kami selesai. Sehingga akan ada lebih banyak waktu bagi kami untuk bersantap bersama. Rasanya jadi pengen peluk mereka satu-satu.

Hari raya sebuah agama yang berbeda sangat kami hormati. Ketika di luar sana bertikai di suatu hari raya agama, kami disini tertawa bahagia bersama mempererat tali persaudaraan. Kami saling menghargai perbedaan keyakinan, tidak juga mencampuradukkan. Kami tidak merayakan hari yang berbeda dari kepercayaan kami, tapi saling berkunjung sebagai media berkumpul bahagia dengan rukun.  Sesederhana itu. Inilah Bhinneka Tunggal Ika ala kami.

Diambil dari buku “Dialog 100: 100 Kisah Persahabatan Lintas Iman” (penerbit: Jakatarub & Interfidei, 2013). 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!