Foto: Antara

Foto: Antara

Empat ratus delapan puluh delapan.

Inilah usia kota Jakarta sampai hari ini. Ibukota yang padat dengan berbagai persoalan dan penuh sesak dengan manusia. Ibukota yang jadi harapan banyak manusia di penjuru negeri ini. Dan karenanya, kota ini terus berbenah demi kenyamanan banyak orang.

Tahun ini, Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama punya program 5 Tertib untuk Jakarta. Tertib lalu lintas, tertib PKL, tertib hunian, tertib kebersihan dan tertib demo. Program yang diluncurkan sejak akhir Mei lalu ini diharapkan bisa menaikkan level Jakarta sebagai ibukota negara yang masih jauh tertinggal dibandingkan ibukota negara tetangga di kawasan Asia.

Jakarta adalah rumah bagi banyak orang dengan latar belakang. Mungkin karena itu pula, aturan jadi begitu sulit ditegakkan di ibukota. Ketertiban jadi sesuatu yang sulit dicapai karena semua orang menafsir aturan dengan caranya masing-masing.

Soal aturan, jangan ditanya: ada banyak. Tapi menegakkan aturan, itu yang jadi PR. Contoh yang sederhana: buang sampah pada tempatnya. Di banyak tempat sampah, selalu dimunculkan himbauan untuk membuang sampah pada tempatnya. Ini dilengkapi pula dengan rujukan aturan serta sanksi dari aturan tersebut. Toh tetap saja, sampah terserak di mana-mana. Seolah aturan tak ada artinya.

Jakarta adalah inspirasi. Mulai dari kota pelabuhan pada abad ke-12, Jakarta kini sudah menjadi kota metropolitan. Jakarta sebagai ibukota adalah wajah negara – meski masih banyak turis yang lebih kenal Bali ketimbang Jakarta atau Indonesia. Kemajuan atau kemunduran Jakarta seperti jadi parameter bagi kota-kota lainnya. Jakarta masih jadi magnet. Dan karenanya setiap tahun Jakarta masih terus berkutat dengan orang-orang daerah yang hendak bertarung cari peruntungan.

Selamat ulang tahun Jakarta. Ayo terus berbenah!   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!