Ilustrasi mata uang turun

source housing-estate.com/wp-content/uploads/2014/02/rupiah-turun-grafik.jpg

Saat ini posisi rupiah semakin terpuruk, beberapa hari lalu mencapai Rp.13.400/USD jauh melampaui asumsi di APBNP 2015 sebesar Rp.12.500/USD. Besaran di APBNP pun sudah melalui revisi dari patokan sebelumnya, yang besarnya Rp.11.900/USD. Dalam situasi ini BI harus lebih bekerja keras lagi dalam menstabilkan nilai rupiah agar mencapai nilai yang diinginkan dalam APBN, mengingat stabilitas kurs merupakan faktor fundamental makro ekonomi, yang akan mempengaruhi faktor-faktor lainnya. Dan ini masih bisa dicapai jika dilihat dari beberapa faktor : cadangan devisa, kewajiban pembayaran utang luar negeri dan neraca perdagangan, dan investasi.

Cukupkah apa yang sudah dilakukan BI ?

Cadangan devisa kita per akhir Mei 2015 sebesar USD 110.8 Milyar. Posisi ini dibandingkan posisi di akhir Desember 2014 sebesar USD 111.9M, maka selama tahun 2015 cadangan devisa kita menurun sebesar USD 1.1 Milyar. Penurunan cadangan devisa dipengaruhi oleh neraca perdagangan, pembayaran utang luar negeri (pemerintah dan swasta), serta kebutuhan dalam negeri sendiri (stabilisasi kurs). 

Neraca perdagangan kita di 2015 sampai dengan April masih surplus sebesar USD 2.8 Milyar, dimana expor sebesar USD 52,1 Milyar dan impor 49,3Milyar. Dan di bulan Mei walaupun tekanan ekonomi internasional masih tinggi, diperkirakan masih akan surplus sekitar USD 700 juta, sehingga neraca perdagangan Januari-Mei 2015 diperkirakan surplusnya sebesar USD 4.5 Milyar. Surplusnya neraca perdagangan sangat luar biasa diantara tekanan akibat kenaikan harga minyak internasional. 

Selain neraca perdagangan, kita harus melihat pula posisi utang luar negeri yang harus dibayar. Utang luar negeri pemerintah yang sudah dibayar sampai bulan Januari dan Februari 2015 (pokok dan bunga) sebesar USD 863 juta. Dan rencana cicilan pembayaran beserta bunganya untuk periode Maret-Desember 2015 sebesar USD 7.9 Milyar (http://www.bi.go,id/en.iru/economic-data/externaldebt/documentSULNI%20APRIL%202015.pdf). Artinya dari Januari - Mei pembayaran utang luar negeri jumlahnya berkisar USD 3.3 Milyar. Dengan surplus neraca perdagangan sebesar USD 4,5 Milyar, dan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah sebesar USD 3.3 Milyar dan terjadi penurunan cadangan devisa sebesar USD 1,1 Milyar, maka berarti devisa (USD) yang dilepas oleh BI ke pasar selama periode Januari-Mei hanya sebesar USD 2.3 Milyar, untuk sisa kebutuhan swasta dalam membayar utang/kewajiban mereka. 

Dengan melihat data-data kewajiban utang luar negeri, neraca perdagangan dan cadangan devisa di akhir Mei - tetapi rupiah terus memburuk, maka BI harus lebih agresif untuk menstabilkan nilai rupiah. Melepas devisa “secara tanggung” ternyata tak berdampak apa pun, bahkan jika dilakukan terus menerus hanya menguntungkan ‘spekulan” akibat fluktuatifnya nilai USD.  Dan jika melihat kebutuhan pokok masyarakat menjelang lebaran yang meningkat yang akan memacu inflasi, dengan ditambah memburuknya nilai rupiah maka beban kehidupan masyarakat semakin berat. Stabilitas nilai rupiah juga akan membantu industri strategis yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat banyak, tetapi komponen terbesar masih harus impor, seperti industri farmasi, akan sangat tertolong dengan stabilnya nilai rupiah. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!