Demi Tuna

"Kita telah terlalu lama memunggungi laut."

Kamis, 28 Mei 2015 07:45 WIB

Nelayan dan hasil tangkapannya, (Antara)

Nelayan dan hasil tangkapannya, (Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Indonesia baru saja menandatangani deklarasi ketelusuran ikan tuna dengan lembaga PBB yang mengurusi industri. Artinya, tuna yang dijual di Indonesia bisa ditelusuri asal usulnya serta dipastikan kalau diperoleh dengan cara yang ramah lingkungan. Penelusuran ini penting tak hanya untuk negara pembeli, tapi juga nasib tuna di muka bumi.

Saat ini Indonesia menjadi pemasok kedua terbesar ikan tuna di dunia. Lebih dari 16 persen total produksi tuna dunia datang dari negara kita. Tuna paling banyak menyumbang nilai ekspor perikanan setelah udang. Kuartal pertama tahun ini saja, ekspor tuna menyetor 89,41 juta dollar AS ke kas negara.

Organisasi lingkungan WWF mewanti kian menurunnya populasi tuna. Ancaman utamanya adalah penangkapan yang berlebihan atau over fishing. Jika tata kelola penangkapan tuna tak diperbaiki, Indonesia bisa-bisa kehilangan pemasukan dari ekspor tuna.

Langkah pemerintah menandatangani deklarasi ketelusuran ikan tuna seperti melengkapi aksi melawan mafia ikan yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak dimotori Menteri Susi Pudjiastuti. Mulai dari moratorium izin baru kapal penangkapan ikan, penengelaman kapal pencuri ikan sampai larangan penggunaan alat tangkap yang merusak. Kementerian juga menggandeng organisasi pemburu kapal pencuri ikan. Semua demi perikanan yang berkelanjutan. Demi generasi mendatang.

"Kita telah terlalu lama memunggungi laut," kata Joko Widodo dalam pidato pertamanya setelah dilantik jadi presiden. Ini semacam pengingat bahwa Indonesia adalah negara maritim, bahwa 70% wilayah Indonesia adalah laut.

Sekarang kita selamatkan tuna. Selanjutnya kita pastikan ikan-ikan lain juga diatur tata kelolanya. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Anies Kembali Ulur Waktu untuk Jelaskan Sikap Tolak Reklamasi

  • Amerika Buka Sokumen Rahasia Tragedi 65/66, Ini Kata Sejarawan
  • Jumlah Rumah Rusak Tertimpa Longsor di Trenggalek Terus Bertambah
  • Polisi Perancis Tangkap 10 Orang yang Berencana Menyerang Masjid