jihad, paris, Charlie Hebdo, Ahmed Merabet

Aku bukan Charlie, aku Ahmed si polisi yang mati. Charlie mengolok-olok iman dan kebudayaanku, dan aku mati mempertahankan haknya melakukan itu. #JeSuisAhmed.

Demikian cuit aktivis politik Dyab Abou Jahjah, satu hari setelah peristiwa Charlie Hebdo pekan lalu. Cuitan dan hashtag ini viral dalam sepekan, dan sampai Minggu sore mendapatkan 36 ribu retweets dan 26 ribu favorites. Gerakan ini pun diangkat oleh media-media internasional.

#JeSuisAhmed muncul ketika kebencian terhadap Muslim di negara itu yang mulai naik. Temuan @TellMAMAUK menyebutkan, setelah peristiwa Charlie Hebdo ada 15 aksi anti-Muslim di seluruh Perancis. Seperti pelemparan terhadap masjid di Port-la-Nouvelle dan Le Mans, serta graffiti bernada kebencian di masjid di Bayonne dan Poitier.

Lalu kisah Ahmed hadir sebagai depresan bagi sindrom itu, sangat tepat waktu. Ahmed Merabet adalah satu dari dua polisi yang ikut tewas dalam penyerangan di Charlie Hebdo. Dia beragama Islam dan keturunan Aljazair. Rabu siang itu Ahmed sedang berpatroli, lalu bertemu Kouachi bersaudara yang baru menembaki 10 orang di ruang redaksi. Ahmed tersungkur di trotoar, sempat meminta ampun, sebelum akhirnya tewas.

Tewasnya Ahmed menjadi pengingat manis buat masyarakat Perancis, yang mungkin begitu berang sampai mereka mengorek-ngorek luka lama bernama Islamofobia. Kisah Ahmed akan menghentikan prasangka lewat sejumlah fakta. Bahwa Ahmed beragama Islam, dia dibunuh oleh teroris yang mengatasnamakan Islam, setelah teroris itu membunuh 10 karikaturis yang menghina Islam. Posisi Ahmed sebagai korban adalah jawaban.

Tewasnya Ahmed akan jadi mercusuar yang – secara vulgar – memisahkan Islam dan terorisme dengan jurang besar. Namanya akan menandai sejarah mungil, di mana Barat belajar bahwa kekerasan bukanlah bagian dari ajaran suci Muhammad. Selanjutnya, orang-orang yang membajak istilah jihad akan malu sendiri dan akhirnya berhenti.

Kisah Ahmed akan mengurai benang kusut perdebatan panjang soal kekerasan dalam Islam. Nama Ahmed akan menjadi Bintang Selatan, yang memandu orang ke dalam pemahaman terbarukan: Bahwa tidak semua muslim melakukan kekerasan, Islam adalah agama perdamaian, dan teroris adalah pembajak agama musuh kemanusiaan.

Tulisan ini mengenang dua jihadis yang tewas di Paris, Rabu itu – bukan Kouachi bersaudara – tapi Ahmed Merabet dan satu rekannya yang juga meregang nyawa. Tuhan akan memeluk kalian di surga.

Penulis adalah anggota Community for Interfaith and Intercultural Dialogue.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!