yahudi, toleransi

Penampilan pria setengah baya ini sederhana,  raut wajah kebapakan dan cenderung pendiam. Tanpa kippah (topi Yahudi) di kepalanya, tak akan ada yang menyangka, Ehud Binyamin Ben Avraham adalah penganut kepercayaan Yahudi atau Judaisme. 

Ehud Binyamin Ben Avraham adalah nama baru yang dipilih pria ini setelah ia memutuskan keluar dari kepercayaannya yang lama dan menjadi penganut Judaisme. Pengabsahan Ehud Binyamin Ben Avraham dilakukan satu tahun silam, tepatnya pada 28 Januari 2014. Konversi dilakukan di depan Beit Dinh, di muka dua rabbi dan satu saksi pemimpin Komunitas Yahudi Liberal.  Tanda sah Ehud adalah orang beragama Yahudi dinyatakan dalam selembar sertifikat konversi.

Ehud mengenal Judaisme di Indonesia - bukan di negara Yahudi, Israel atau di Amerika Serikat, negara yang memiliki jumlah orang Yahudi terbesar setelah Israel. Meski ia orang Indonesia asli, ia tertarik pada agama Yahudi. Ehud lalu mempelajari Torah dan menjalankan tradisi Yahudi bersama-sama dengan komunitas Yahudi lokal, the United Indonesian Jewish Community (UIJC) sejak  28 Oktober 2010. 

“Saya belajar sambil berjalan, sambil praktik dalam komunitas tersebut.” Ehud mengaku belajar banyak dari seorang Indonesia keturunan Yahudi Yokhanan Eliyahu sejak awal 2010. Ia lalu masuk dalam komunitas Yahudi di Indonesia (UIJC) dan mengenal Benjamin Meijer Verbrugge, Ketua UIJC saat ini. Di UIJC, Ehud merasa mendapatkan bimbingan dan tuntunan karena Yokhanan dan Benjamin pun berganti agama menjadi Yahudi, sama seperti dirinya. 

Latar belakang agama lama mereka yang sama membuat Ehud semakin yakin pada agama barunya ini. Keyakinan tersebut semakin bertambah-tambah setelah ia berkunjung ke Israel. Ketika berada di Hebron (kota tempat Daud dinobatkan sebagai Raja Israel), Ehud merasakan pengalaman spiritual secara pribadi. 

“Saya mengerti benar panggilan ini. Saya gambarkan pertemuan dengan Judaism adalah sebuah perjumpaan dengan kebenaran, sejarah dan kasih Tuhan.  Dalam studi Torah bersama-sama mereka saya justru banyak menemukan kebenaran yang selama ini saya tidak peroleh dari kepercayaan saya sebelumnya, banyak hal juga saya tidak pernah tahu sebelumnya dan dibukakan dalam studi Torah.  Banyak pengalaman spiritual yang saya alami menunjukkan saya sudah berada dalam dekapan (sekinah) HaShem (Sang Pencipta).” 

Salah satu alasan ia berpaling pada Judaisme adalah karena Tanach. Ehud meyakini pemilik Kitab Suci Tanach adalah bangsa Yahudi. Tanach terdiri dari Torah (Taurat), Ketuvim (kitab puisi) dan Nevi’im (kitab sejarah Israel/kitab para nabi). Karena Tanach bercerita dan tentang bangsa Yahudi, menurut Ehud, seyogyanya tafsir yang lebih dapat dipercaya adalah tafsir dari bangsa Yahudi. 

“Jadi saya mulai menemukan tafsiran dan penjelasan yang saya perlukan dari sumber yang tepat, yaitu mereka, bangsa Yahudi, yang memiliki dan mengerti Torah, melalui rabbi-rabi Yahudi yang berkompeten.” 

Saat ini di UIJC ada  dua rabbi orthodox, dua rabbi konservatif dan lebih dari enam rabbi reformis yang membantu mengajar.

Konversi Ehud menjadi penganut Judaisme turut berdampak pada istri dan anak-anaknya, Keluarganya pun mempraktikkan tradisi dan bergabung dalam kegiatan ibadah dan merayakan hari raya Yahudi. Dimulai dari hal yang bisa dilakukan pribadi  seperti Tefillah (berdoa), makan makanan halal (kosher), hidup dalam halakah (hukum) Yahudi dan melakukan ibadah bersama seperti Shabbat Shacharit (doa pagi waktu Sabat) serta merayakan tujuh Hari Raya Yahudi dalam satu tahun. 

Meski keluarganya dapat menerima konversi Ehud, namun dalam lingkungan pergaulan sosial, Ehud memilih menghindari percakapan mengenai agama. Bahkan teman-temannya tidak mengetahui mengenai agama barunya ini. Namun dialog antara sesama pemeluk agama Yahudi justru dirasakan Ehud sangat dalam. 

“Hubungan saya dengan global Jewish Community dan Israel sangat emosional.” 

Ehud yang sudah dua kali ke Israel ini mengakui mengagumi Israel yang sangat menghargai perbedaan agama dan suasana di Israel yang penuh keajaiban. “Israel sangat mengagumkan dalam teknologi. Teknologi ribuan tahun lalu dapat mengangkat  batu yang beratnya 6000 ton untuk dijadikan fondasi Bait Suci.”

Meski Ehud menjalankan Judaisme dan menjalin hubungan dengan komunitas Yahudi, Ehud masih belum bisa membaca dan menulis dalam Bahasa Ibrani. Tantangan utama yang Ehud rasakan adalah Bahasa Ibrani yang sukar dan makanan kosher yang ketat. 

Saat ini Ehud berusaha untuk mempelajari Bahasa Ibrani di tengah kesibukan bisnisnya yang berkembang. Sedangkan untuk merayakan Hari Raya Yahudi di Indonesia, Ehud menerangkan betapa sukarnya membawa masuk daun tanaman yang digunakan saat Hari Raya karena saat sampai di Indonesia sudah dalam keadaaan layu atau malah tertahan akibat regulasi impor.  Hal yang sama terjadi pada peralatan makan dan makanan kosher yang harus didatangkan dari Israel atau komunitas Yahudi terdekat. Yang jelas di Indonesia saat ini belum ada makanan 100% kosher, kecuali ada pemotong daging terlatih. 

Ehud menyebutkan orang Yahudi di Indonesia bertahan mempraktikkan kosher dengan cara memilih dan memasak makanan sendiri seperti makan sayur dan ikan bersisik dan bersirip. “Yang pasti kami menghindari apa yang ditulis dalam Imamat 11. Babi sama sekali tidak dikonsumsi.”

Kini Ehud menikmati kehidupan barunya sebagai seorang penganut Yahudi. Meski tanpa rumah ibadah Yahudi, sinagoga, hal ini tidak dipersoalkan oleh Ehud. 

“Agama Yahudi adalah agama keluarga, kami tidak wajib beribadah di tempat ibadah khusus seperti gereja atau mesjid. Jadi tidak ada kesulitan apa-apa sekalipun minoritas. Dalam praktiknya, ibadah Shabbat dilakukan di rumah sendiri.” 

Lalu, bagaimana dengan kippah (penutup kepala Yahudi)? Apakah bisa digunakan sehari-hari?  

Ehud menjawab santun, “Tentu saja atribut Yahudi tidak digunakan untuk memancing reaksi orang-orang yang berseberangan. Judaism bukan agama show off (dipamerkan).”

Namun jauh di lubuk hati Ehud, ia merindukan agamanya ini dapat diterima oleh Negara Indonesia dan disahkan sebagai agama resmi oleh Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi. Sama seperti dahulu ketika Gus Dur menjadi Presiden, Gus Dur menetapkan Konghucu sebagai agama resmi di Indonesia.  

Ehud menyatakan, menurut keyakinan Yahudi, penganut dan orang Yahudi sudah ditetapkan Elohim (Tuhan/Pencipta) untuk memperbaiki dunia (Tikkun Olam) dan menjadi terang bagi bangsa-bangsa (Or L’goyim).  Karena itulah, Ehud yakin penganut Yahudi bisa menjadi bagian dari masyarakat Indonesia dan mencintai semua suku, agama dan ras. Ia menegaskan, 

“Judaism bukan agama siar yang dapat berpotensi menjadi konflik atau menyakiti hati agama lain.”  

Kini ia menghimbau sesama penganut agama Yahudi di Indonesia agar semakin sungguh-sungguh mempelajari dan melakukan Torah, membagi kebaikan (chessed) dan pemberian (tzedekah) kepada siapapun yang membutuhkan.

Penulis adalah mantan wartawan KBR, sekarang bekerja di Metro TV.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!