Manfaat Ganja

Februari lalu aparat BNN Sanggau mencokok Fidelis dengan bukti 39 batang ganja. Sejak itu pengobatan berhenti, kondisi Yeni kembali memburuk dan 32 hari setelahnya meninggal.

Senin, 03 Apr 2017 22:29 WIB

ilustrasi: ganja dua sisi.

ilustrasi: ganja dua sisi.

Demi istri tercinta, Fidelis Arie Sudewarto warga Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, nekat menanam ganja di halaman belakang rumahnya. Yeni Riawati istrinya didiagnosa menderita penyakit langka syringomyelia alias tumbuhnya kista di sumsum tulang belakang. Upaya penyembuhan melalui medis hingga alternatif sudah Fidelis coba, tapi tak membuahkan hasil.

Melalui mesin pencari, Fidelis menemukan  informasi manfaat ekstrak ganja bagi upaya penyembuhan penyakit  istrinya.  Ganjapun ditanam dan dimanfaatkan untuk pengobatan. Bila sebelumnya sang istri sudah nyaris lumpuh total, setelah menggunakan ekstrak ganja, keluarga bersaksi kondisi Yeni membaik. Yeni menjadi tak sulit tidur, mulai makan, dan mulai mau bicara.

Dari media sosial Facebook milik Fidelis kita juga melihat bagaimana upayanya mendapatkan informasi tentang manfaat ganja bagi sejumlah penyakit. Dari komunikasi dengan mereka yang telah memanfaatkan ganja di manca negara itulah Fidelis memutuskan menanam. Alasannya bukan semata lebih murah, tapi juga mendapatkan ganja yang berkualitas. Tak sembarang ganja bisa digunakan untuk pengobatan. Butuh perawatan seksama untuk bisa membuat pohon ganja berbunga dan mengambil ekstrak terbaik dari bunganya.

Tapi upaya penyembuhan itu tak berlanjut, pada pertengahan Februari lalu aparat Badan Narkotika Nasional (BNN) Sanggau mencokok Fidelis dengan bukti 39 batang ganja. Sejak itu pengobatan berhenti,   kondisi Yeni kembali memburuk. Tepat pada 32 hari setelah Fidelis ditangkap, sang istri menghembuskan nafas terakhir.

Istri berpulang, dan Fidelis terancam kurungan 20 tahun penjara. Pemerintah juga aparat mesti berpikir terbuka. Penegakan hukum memang harus dilakukan, sembari  tak melupakan dasarnya, keadilan. Fidelis tak terbukti mengkonsumsi ganja, juga tak menjualnya. Sepatutnya itu jadi pertimbangan. Sembari proses itu berjalan, Pemerintah sepatutnya mendorong perguruan tinggi, LIPI, atau lembaga lainnya untuk meneliti manfaat ganja bagi penyembuhan beragam penyakit. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Bamus Tunda Penggantian Setnov

  • Hoaks 8 Penyakit Tak Ditanggung BPJS Resahkan Warga Bengkulu
  • Salah Sasaran, Puluhan Ribu Penerima PKH Dihapus
  • Koresponden Asia Calling di Pakistan Terima AGAHI Award

PLN menggenjot pemerataan pasokan listrik dari Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian timur