Menghukum Partai Penipu

Para pengguna media sosial atau nettizen di Indonesia kemarin meluapkan kemarahan ke gedung DPR di Senayan.

Selasa, 08 Des 2015 10:00 WIB

Para pengguna media sosial atau nettizen di Indonesia kemarin meluapkan kemarahan ke gedung DPR di Senayan. Kekuatan media sosial yang sudah tidak diragukan lagi itu kali ini membombardir para anggota Mahkamah Kehormatan DPR karena membela habis-habisan sang Komandan, Setya Novanto.

Alhasil, tanda pagar atau tagar #MKDBobrok menjadi trending topic dunia atau merajai topik terhangat dan terpopuler Twitter se jagad raya.

Sidang Mahkamah Kehormatan DPR atau MKD kemarin berlangsung antiklimaks. Berbeda dari dua sidang sebelumnya, MKD kemarin menutup pintu ruangan rapat-rapat saat memeriksa dugaan perilaku tidak etis sang Ketua DPR. Seolah ada pembicaraan rahasia negara yang tidak boleh diketahui publik.

Publik merasa ditipu dan dipermainkan anggota MKD, atau tepatnya anggota Hakim MKD pendukung Setya Novanto. Apalagi, sidang dipimpin Kahar Muzakkir, teman separtai Setya Novanto di Golkar. Publik juga tahu, Kahar dan Setya Novanto sama-sama pernah terlibat kasus dugaan suap dan korupsi di penyelenggaran PON Riau.

Dari bocoran isi rapat, publik toh kemudian tahu apa yang disampaikan Setya Novanto. Ia membacakan pembelaan 12 halaman, dan menyatakan diri tidak bersalah.

Selama beberapa hari ini sidang MKD sudah memberikan gambaran cukup kepada publik, bagaimana kualitas sebagian anggotanya. Tidak perlu pendidikan tinggi untuk memahami bagaimana partai-partai di Koalisi Merah Putih membela habis-habisan Setya Novanto. Mereka mengabaikan substansi masalah yaitu etika Setya Novanto, justru memperdebatkan hal-hal lain seperti legalitas rekaman. Ini sinetron yang melelahkan.

Tidak perlu heran jika akhirnya nanti Mahkamah memutuskan Setya Novanto tidak bersalah, atau hanya kena hukuman kategori ringan. Juga tak perlu heran jika nanti publik menghukum partai politik mengecewakan itu dengan caranya sendiri. Melalui trending topic di Twitter, melalui Pilkada dengan tidak memilih calon yang diusung partai-partai itu, melalui pemilu di 2019, dan sebagainya.

Tontonan di Senayan itu paling tidak membukakan mata hati publik, bahwa mereka, partai-partai yang menipu rakyat itu sedang menggali kuburannya sendiri.


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Ombudsman RI Temukan Pungli di Pasar Tanah Abang Hingga Rp1 Juta

  • Insentif GTT di Banyuwangi Naik Tiga Kali Lipat
  • Tarif Listrik Naik, Partai Oposisi Bangladeh Serukan Mogok Massal
  • Politikus Jepang Bawa Anak ke Sidang Dewan Dikritik

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing