November Hitam

Sejumlah riset meyakini Wiranto sebagai orang di balik pembentukan Pamswakarsa, yang terdiri dari berbagai ormas, termasuk FPI.

Selasa, 14 Nov 2017 09:35 WIB

Peringatan 19 tahun Tragedi Semanggi

Mahasiswa menggelar aksi memperingati 19 tahun tragedi Semanggi mendesak pemerintah menuntaskan kasus pelanggaran HAM di Indonesia. (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Maria Sumarsih usianya 65 tahun. Meski sudah sepuh itu, ia masih kerap turun ke jalan, terutama setiap hari Kamis melalui aksi Kamisan di depan Istana Merdeka selama lebih dari 500 kali. Ia adalah ibu dari Norma Irawan alias Wawan, mahasiswa Universitas Atmajaya Jakarta. Wawan tewas terkena peluru tajam tepat di jantung dan paru-paru, ketika aksi mahasiswa menuntut pencabutan dwifungsi ABRI pada 12 November 1998.

Aksi pada 11 hingga 13 November, tepat 19 tahun lalu menjadi tragedi kelam Semanggi I yang tidak mungkin dilupakan dan dihapus dari sejarah bangsa ini. Ketika itu milisi sipil bersenjata bentukan ABRI, yaitu Pamswakarsa dikerahkan untuk menghadapi aksi-aksi mahasiswa. Di tengah bentrokan itu, tentara menembak membabibuta. Data Komisi Penyelidik Pelanggaran HAM (KPP HAM) menyebut ada sekitar 18 orang tewas dalam tragedi Semanggi I, termasuk tujuh orang mahasiswa. Ratusan orang luka terkena tembakan dan pukulan benda tumpul.

Aksi Nenek Sumarsih dan teman-temannya turun ke jalan adalah menuntut keadilan, bagi anaknya, keluarganya, juga bagi para korban tragedi Semanggi I maupun korban pelanggaran hak asasi manusia lain.

Pemerintah mengklaim sudah mengadili pelaku di lapangan melalui pengadilan militer. Tapi para keluarga korban menuntut lebih; meminta tanggung jawab petinggi militer kala itu, termasuk Wiranto, yang saat itu Panglima ABRI. Sejumlah riset meyakini Wiranto sebagai orang di balik pembentukan Pamswakarsa, yang terdiri dari berbagai ormas, termasuk FPI.

Sudah 19 tahun Tragedi Semanggi I menyisakan luka. Apalagi ketika orang yang diduga terlibat selalu menghindar dari tanggung jawab komando, bahkan masuk lingkar kekuasaan. Di November hitam ini, mari mengheningkan cipta. Untuk tidak melupakan peristiwa itu, dan mendorong negara agar tidak melindungi para pelaku kejahatan kemanusiaan. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Tanggal 23 Juli nanti kita akan merayakan Hari Anak Nasional. Peringatan ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan yang dihadapi anak Indonesia.