Presiden Jokowi. (Foto: Setkab)

Presiden Jokowi. (Foto: Setkab)

Terima kasih pahlawan tanpa tanda jasa. Begitu tersirat disampaikan Presiden Joko Widodo kala memberikan sambutan dalam puncak peringatan Hari Guru Nasional di Istora Senayan Jakarta, kemarin. Tahun ini peringatan Hari Guru mengambil tema “Guru Mulia karena Karyanya”. Kata Jokowi, dirinya menjadi presiden saat ini adalah karya dari para guru.

Hari Guru semestinya dirayakan hari ini. Lantaran Presiden ada acara lain, puncak peringatan dimajukan sehari. Dalam sambutannya presiden mengingatkan para guru untuk mendidik muridnya menjadi murid yang berkarakter. Menurut presiden saat ini karakter anak murid banyak dipengaruhi aktivitas di luar sekolah seperti menonton televisi dan media sosial. 

Pesan presiden ada baiknya diingat para guru dan tentu saja orang tua. Pengaruh buruk bagi anak murid memang tak hanya datang dari televisi atau media sosial. Tapi bisa datang dari mana saja, termasuk lingkungan pergaulan anak di dunia nyata. 

Beberapa hari lalu misalnya, melalui media sosial beredar video beberapa anak laki-laki berseragam merah putih yang mem-bully teman perempuannya di dalam kelas. Sembari melakukan gerakan-gerakan tak senonoh, si murid lelaki meneriaki dan menganiaya teman perempuannya yang menangis histeris. Tak ada cukup informasi di kelas sekolah mana peristiwa itu terjadi. 

Apa yang dilakukan anak murid itu sungguh tak sepatutnya. Guru, orang tua dan lingkungan sekitar tak bisa lepas tanggungjawab dengan tingkah anak semacam itu. Bila ketika masih di tingkat sekolah dasar sudah berperilaku semacam itu, kita patut kuatir dengan tindakannya ketika beranjak ke jenjang yang lebih tinggi.

Karena itu pesan presiden di peringatan Hari Guru sungguh relevan. Tugas bersama, guru, orang tua dan lingkungan sekitar untuk bersama membentuk anak murid dengan karakter yang berkualitas. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!