hukum cambuk di aceh, pemerkosaan di aceh, polisi syariah, pemberlakuan syariah islam, tsunami aceh

Perempuan itu sesungguhnya telah “dibunuh” berkali-kali. 


Ketika ia berada di sebuah rumah dengan seorang laki-laki, segerombolan laki-laki lain mendatangi mereka. Dituduh berzina, gerombolan laki-laki kemudian memperkosa si perempuan malang. Delapan orang, yang menggerebeknya atas nama moral dan hukum syariah, merasa berhak untuk menyakitinya. Menghunjamkan neraka ke dalam tubuhnya.


Delapan lelaki setan itu memang lantas ditangkap. Tapi hukuman kepada perempuan itu mungkin tak berhenti di situ. Ia, sekali lagi atas nama moral dan hukum syariah, harus menebus kesalahannya – karena berduaan dengan seorang lelaki bukan muhrim. Ia, menurut Kepala Dinas Syariat Islam Langsa Ibrahim Latif kepada KBR, belum dicambuk karena saat ini sedang dalam keadaan hamil.


Hukuman memang belum dijatuhkan. Itu hanya soal waktu. Tapi perempuan malang itu sesungguhnya telah “dibunuh” berkali-kali. Bahkan untuk bertanya di mana keadilan pun, mungkin ia tak sanggup lagi.


“Kejahatan adalah hal buruk yang dijual sebagai kebaikan, kekeliruan dijual sebagai kebenaran, dan ketidakadilan dijual sebagai keadilan,” kata John Hartung.


Di sebuah negeri yang diperintah oleh laki-laki, di mana moralitas diukur dan ditimbang para ahli tafsir yang juga laki-laki, jangan pernah bertanya tentang keadilan. Ketika moralitas warga menjadi urusan negara, dan pengawasannya diserahkan kepada para polisi yang dibentuk khusus, jangan heran kalau kekuasaan itu bisa menjelma menjadi tirani. 


Dan kritik bisa menjadi subversif di sana. 


Sepuluh tahun lampau, negeri itu pernah luluh lantak diterjang tsunami. Sebelumnya, gelombang perang antara tentara pemerintah dan pemberontak tak pernah bisa berhenti. Bencana alam itulah yang akhirnya mengakhiri peperangan panjang yang seakan tak pernah padam.


Solidaritas kemanusiaan lantas tumpah di sana. Dari berbagai belahan dunia, juga dari dalam negeri, gelombang bantuan itu tak putus. Kemanusiaan muncul spontan demi menyelamatkan warga, bukan membangun kekuasaan yang kelak justru membelenggu gerak rakyatnya. 


Tapi pengekangan, juga ketidakadilan, seperti kata Voltaire, pada akhirnya akan menghasilkan kemerdekaan.


Kita tak pernah tahu, apakah rakyat di sana kembali akan bangkit melawan atau tidak. Tapi kalau kita mau sedikit mendengar, bisik-bisik di antara warga itu sudah menyebar: tentang hukum yang hanya berlaku untuk rakyat kecil, karena para pejabatnya dengan gampang bisa mencari hal terlarang di kota lain – di akhir pekan.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!