Asap dan Solusi

Tenggat pemerintah memadamkan kebakaran lahan dan hutan di sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan, sudah habis akhir September lalu.

Kamis, 08 Okt 2015 10:00 WIB

Warga Pekanbaru terpaksa membeli tabung oksigen. (Foto: Akun facebook Hendri)

Warga Pekanbaru terpaksa membeli tabung oksigen. (Foto: Akun facebook Hendri)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Tenggat pemerintah memadamkan kebakaran lahan dan hutan di sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan, sudah habis akhir September lalu. Tapi hingga saat ini titik api masih bertebaran di sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan.

Sebelumnya pemerintah mematok waktu dua bulan; Agustus hingga September, penanganan kebakaran lahan dan hutan harus beres. Nyatanya? Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kemarin mencatat, di Sumatera masih ada 502 titik api dan Kalimantan 712 titik api.

Apa yang sudah dilakukan pemerintah? Rupanya pemerintah tak punya terobosan memadamkan lahan gambut yang terbakar itu. Cara andalan dengan pemboman air yang jelas-jelas tak efektif karena api yang disiram air justru akan menguap, masih terus dilakukan. Bodohnya pula, jalan buntu itu terus menggerus anggaran negara hingga Rp385 miliar.

Kini, warga yang harus menanggung sial. Total ada 300 ribu lebih warga yang sudah terkena Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Parahnya, anak-anak berusia 1 sampai 4 tahun paling banyak menjadi korban; lihat saja yang terjadi pada Hanum dan Nabila.

Lantas apa yang dilakukan pemerintah terutama Kementerian Kesehatan kepada ratusan ribu korban dan warga di sana? Rupanya sama nihilnya. Menteri Kesehatan Nila Moeloek malah berdebat sendiri tentang masker apa yang mesti diberikan. Padahal sudah berbulan-bulan mereka menghirup asap dan asap tak akan hilang jika Menteri Nila masih berkutat pada itu-itu saja.

Jokowi sebagai Presiden, dan para menterinya harus segera mencari solusi dan tak hanya berdebat di balik meja. Jangan pula menyampaikan pernyataan ketidakmampuan dengan berharap pada hujan. Toh mereka mestinya tahu, El Nino panjang kali ini membuat kemarau panjang dan musim hujan pun sudah pasti molor. 



Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Disebut Dukung HTI, Menpora Segera Panggil Adhyaksa

  • Diprotes Imvestor, Presiden Sentil 2 Menteri
  • KPPU: 5 Perusaah Atur Tata Niaga Beras di Sejumlah Provinsi
  • Indonesia Gandeng Azerbaijan Buat Pusat Pelayanan Terpadu

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.