Hoaks

Hasil pemeriksaan visum et repertum atau autopsi oleh para dokter ahli 4 Oktober, penggambaran siksaan itu tak ditemukan. Dokter menyebut kematian 6 orang karena tembakan dan 1 karena luka tusukan.

Rabu, 20 Sep 2017 05:50 WIB

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Gatot Bramantyo

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Gatot Bramantyo (foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Gatot Bramantyo memerintahkan prajuritnya menonton film “Penuntasan Pengkhianatan G30S PKI”. Dia menilai generasi muda perlu mengetahui sejarah Indonesia di masa lalu. Salah satunya sejarah yang dikemas dalam film tersebut. Dia juga  menyoroti berita bohong atau hoaks dan kuatir isu-isu itu dipercaya sebagai hal yang benar terjadi.

Dari sisi lain, pandangan Panglima ada benarnya juga. Pasca peristiwa pembunuhan jenderal itu marak berita hoaks yang dimuat oleh media pada 5 Oktober 1965. Lantaran tak teliti atau dengan maksud tertentu, koran yang terbit menulis bagaimana kondisi jenazah yang ditemukan di Lubang Buaya dalam kondisi sangat mengenaskan. Gambar foto yang kabur diberi keterangan bekas luka di sekujur tubuh akibat siksaan berupa sayatan dan juga anggota tubuh yang tidak sempurna alias mata dicongkel dan alat kemaluan dipotong.

Pembunuhan 6 jenderal dan 1 letnan pada 1965 itu fakta yang tak bisa dipungkiri. Tapi tidak dengan penggambaran yang berlebihan. Dari hasil pemeriksaan visum et repertum atau autopsi yang dilakukan oleh para dokter ahli pada 4 Oktober, penggambaran siksaan itu tak ditemukan. Dokter menyebut kematian 6 orang karena tembakan dan 1 karena luka tusukan.

Itulah hoaks yang lantas direproduksi dan berbuah petaka bagi mereka yang dituding pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memperkirakan, antara 500 ribu hingga 3 juta nyawa melayang akibatnya. Sepatutnya pemerintah melalui Jaksa Agung melanjutkan hasil penyelidikan tersebut. Menuntaskan pengungkapan kasus yang oleh dunia internasional disebut sebagai 'genosida' itu. Tentu agar seperti apa yang dikatakan Panglima, generasi muda tahu yang sebenarnya dan tak terulang peristiwa serupa. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Apakah anda lelah dengan rutinitas harian anda? Seperti kuliah atau bekerja,dan belum punya waktu atau budget anda terbatas untuk bersenang-senang? Dufan Jawabannya