Menolak Lupa

Menolak Lupa

7 September  12 tahun silam, pejuang hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib meregang nyawa di pesawat Garuda Indonesia. Di kursi 40 G pesawat GA-674, 3 jam setelah pesawat terbang dari Singapura, Munir mulai merasakan dahsyatnya serangan racun arsenik. Lelaki bertubuh kecil yang tak gentar menghadapi tantangan itu tak mampu bertahan lama. Tepat 2 jam sebelum mendarat di bandara Schipol Amsterdam, Belanda, Munir menghembuskan nafas terakhir.

Punah sudah niat Munir terbang ke benua lain untuk belajar. Konspirasi jahat memupus langkahnya jauh di negeri orang. Hasil otopsi aparat di Belanda menunjukkan jejak senyawa arsenikum di perut Munir. Presiden saat itu Susilo Bambang Yudhoyono lantas membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) kasus meninggalnya Munir. Penyelesaian kasus ini, kata SBY, ujian bagi sejarah bangsa. 

Maret 2005 dalam rekomendasinya TPF menyebut adanya kejahatan konspiratif. TPF juga menyebut sejumlah kejanggalan seperti keberadaan pilot Pollycarpus Budihari Priyanto dalam penerbangan Jakarta - Singapura. Kejanggalan lain persekongkolan petinggi Garuda dalam penerbitan surat tugas dari Polly.  

Presiden lantas memperpanjang kerja tim. Pada 23 Juni TPF menyampaikan rekomendasi agar kepolisian menyidik peran Kepala  Badan Intelijen Negara (BIN)  AM Hendropriyono dan Deputi BIN  Muchdi Purwoprajono, dan Bambang Irawan Agen BIN. TPF juga merekomendasikan untuk membentuk tim baru dengan mandat dan kewenangan yang lebih besar. Tugas tim ini mengawal dan mencari bukti di BIN. 

Sayangnya Presiden SBY tak menjalankan rekomendasi terakhir TPF, termasuk mengumumkan kepada publik hasil kerjanya. Joko Widodo alias Jokowi, presiden penggantinya, punya kesempatan besar menggenapi dan  membuktikan janji kampanyenya dulu Nawa Cita: meneruskan dan mengumumkan rekomendasi TPF kasus meninggalnya Munir. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!