Orang Rimba. (Antara)

Orang Rimba. (Antara)


Merangkuan menghembuskan nafas terakhir di RSUD Raden Mattaher, Jambi akibat komplikasi, Selasa malam lalu. Bocah laki-laki berusia 5 tahun itu sudah kritis ketika dibawa ke rumah sakit. Radang otak, anemia berat dan hepatitis merenggut hidupnya. Merangkuan adalah putra Orang Rimba dari kelompok Mangku Betangkai dan Tumenggung Ngadap yang hidup di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Komunitas adat itu berkabung tepat ketika dunia memperingati Hari Masyarakat Adat.

Bukan kali ini saja anak-anak Orang Rimba dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan kritis. April 2015 lalu, lebih dari 25 anak Orang Rimba dilarikan ke rumah sakit di Muara Bulian Kabupaten Batanghari akibat sakit.

Soal buruknya kondisi kesehatan Orang Rimba sebetulnya sudah sering disuarakan Komunitas Konservasi Indonesia KKI WARSI, lembaga yang mendampingi Orang Rimba. Hasil studi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman bekerjasama dengan WARSI menunjukkan empat dari 10 Orang Rimba atau lebih dari sepertiga populasi orang Rimba mengidap penyakit hepatitis B. 

Kondisi kesehatan Orang Rimba makin buruk salah satunya akibat makin sempitnya ruang jelajah mereka. Hutan yang menopang kehidupan mereka  berubah jadi HTI dan kebun sawit sehingga tidak bisa lagi memenuhi air bersih dan pangan. Catatan Warsi, alih fungsi hutan menyumbang gizi buruk yang menyebabkan tewasnya 12 Orang Rimba secara beruntun Maret 2015 silam.

Presiden Joko Widodo pernah secara khusus menemui Orang Rimba tahun lalu. Pemerintah berupaya membuka akses kesehatan dan pendidikan mereka dengan Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar. Namun solusi itu tak mudah dilaksanakan di lapangan karena Orang Rimba tak punya KTP. Begitu pun soal rumah. Bagi mereka, rumah tidak bisa dipisahkan dari rumah yang lebih besar yaitu hutan. Keberadaan hutanlah yang selama ini menopang mereka dengan kesehatan dan pangan.

Matinya anak Orang Rimba kali ini mestinya menjadi dijadikan momen bagi pemerintah untuk mengevaluasi kebijakannya untuk segera mengambil langkah konkrit mengakhiri kesakitan dan kematian Orang Rimba. Yakni memastikan perlindungan kawasan hidup yang tersisa sebagai ruang jelajah mereka. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!