Mudik. (Antara)

Mudik. (Antara)

Reporter KBR di berbagai daerah melaporkan mulai terjadi peningkatan arus penumpang dan kendaraan jelang hari raya Idul Fitri pekan depan. Di jalan bebas hambatan Palimanan Cirebon, Jawa Barat kenaikan mencapai 80 persen dari hari biasanya. Tak sebanyak pengguna mobil, pengguna kereta api juga meningkat sebanyak 5 persen, pun moda lain seperti kapal laut dan pesawat udara. Diperkirakan pada akhir pekan ini peningkatan mobilitas orang dan kendaraan akan semakin tinggi.

Mudik alias pulang kampung, tradisi tahunan para perantau, pulang ke kampung halaman merayakan Lebaran bersama sanak keluarga. Jarak yang jauh, tiket yang melambung, kemacetan, jalan rusak, ancaman banjir dan longsor tak jadi penghalang untuk bersilaturahmi. Jutaan orang dalam beberapa hari ini akan bergerak bersama. Dari barat ke timur atau sebaliknya dari timur menuju tanah kelahiran di Indonesia bagian barat.

Sejak jauh hari Kementerian Pekerjaan Umum menggenjot perbaikan jalan yang rusak. Pembangunan jalan tol juga dipercepat, agar bisa digunakan saat musim mudik tiba. Begitupun Kementerian Perhubungan, kendaraan-kendaraan angkutan umum diperiksa lagi untuk menjamin keselamatan penumpang hingga tempat tujuan. Sebanyak hampir 160 ribu personil gabungan Polisi, TNI, Satpol PP disiagakan untuk mengatasi kemacetan dan kriminalitas.

Kehebohan perbaikan jalan, pemeriksaan kendaraan dan pengamanan mestinya tak hanya dilakukan pada saat jelang hari raya. Pembangunan atau perbaikan mesti juga dilakukan rutin pada hari biasa. Perencanaan yang matang jadi kunci dalam setiap pekerjaan. Setelah itu pengawasan dan evaluasi dalam setiap tahap pekerjaan. Sehingga kala hari raya tiba, pekerjaan yang dilakukan cukup berupa antisipasi atau perbaikan kecil belaka. Selamat mudik, selamat sampai tujuan.   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!