Takbir keliling. (Antara)

Takbir keliling. (Antara)

Beberapa hari terakhir media sosial diramaikan suara protes dari kelompok Islam garis keras seperti FPI dan lain-lain terhadap Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Mereka mengecam Gubernur Ahok yang melarang takbir keliling menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Mereka juga menyebut sikap Ahok sebagai anti-Islam dan anti-takbir, ungkapan Islam untuk mengagungkan nama Tuhan. Media sosial pun menjadi sarana hujatan dan makian terhadap Ahok yang memang non-muslim. 

Benarkah Ahok melarang takbir keliling? Sepanjang penelusuran kami, tidak ada pernyataan Ahok seperti itu. Dalam berbagai kesempatan, juga pada tahun-tahun sebelumnya, Ahok hanya mengimbau agar kegiatan takbir dilakukan di masjid-masjid atau di kampung masing-masing. Tidak dengan cara konvoi di jalan raya.

Ahok menyebut konvoi di jalan raya dengan kendaraan bermotor, apalagi tanpa helm atau naik mobil bak terbuka dilarang aturan lalu lintas. Dan itu merupakan ranah hukum aparat kepolisian. Apakah itu atas nama takbir keliling, pawai suporter sepakbola, dan lain-lain.

Namun media-media tertentu dan media sosial memberitakannya berbeda. Hingga muncullah berita bahwa Ahok melarang takbir keliling.

Sejatinya imbauan atau bahkan larangan takbir keliling di jalan raya muncul di banyak tempat. Di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan kota-kota lain sudah muncul imbauan aparat kepolisian agar kegiatan takbir tidak dilakukan di jalan raya. Toh itu tidak memicu protes FPI.

Imbauan kepolisian itu tidak muncul tiba-tiba, melainkan belajar dari banyaknya kasus kecelakaan akibat konvoi yang tidak mengindahkan standar keselamatan lalu lintas. Orang berdiri di atap bus, naik mobil bak terbuka hingga berdesak-desakan, naik motor tanpa helm, dan sebagainya. 

Kelompok FPI dan lainnya selama ini kerap menolak gagasan Islam Nusantara yang mengedepankan tradisi Islam toleran. Namun giliran menyangkut takbir keliling, mereka membela dengan alasan itu tradisi nusantara.

Takbiran merupakan tradisi untuk mengagungkan nama Tuhan, yang mestinya tetap memperhatikan adab dan kepatutan. Bukan seperti ingin unjuk kekuatan di jalan raya.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!