Peti jenazah terduga teroris Santoso dijaga aparat kepolisian. (Antara)

Peti jenazah terduga teroris Santoso dijaga aparat kepolisian. (Antara)


Usai dilantik menjadi Kepala Kepolisian Indonesia, Tito Karnavian nyaris langsung menunaikan janjinya. Kapolri yang masih merangkap Kepala Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT), menjanjikan penumpasan gembong tersangka terorisme Santoso dan kelompoknya serta pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Kata Tito, operasi penangkapan Santoso dan gerombolannya jadi prioritas polisi. Kalau tak mau menyerah, kepolisian akan menangkap buronan kakap itu hidup atau mati, begitu ancam Tito. Operasi Tinombala ditingkatkan dan dipergencar. Kepala Kepolisian Sulawesi Tengah  Rudy Sufahriadi memastikan dua tersangka teroris yang tewas saat baku tembak dengan aparat di hutan Tambarana, Poso Pesisir Utara, Sulawesi Tengah, adalah Santoso dan Basri. Kata kapolda yang sebelumnya bertugas di BNPT itu, Basri adalah orang kepercayaan alias tangan kanan Santoso. Kepastian diperoleh setelah kepada anggota kelompok yang sudah ditangkap, diperlihatkan foto kedua jenazah.

Petinggi kelompok sudah dilumpuhkan, masih ada belasan anggotanya yang  berkeliaran. Pun dengan anggota ISIS dan simpatisannya yang bersembunyi. Kapan saja dan di mana saja mereka bisa muncul membalas dendam dan menebar teror. Kewaspadaan mesti dipelihara kalau tak ingin jatuh korban. 

Sembari menunggu tunainya janji kapolri, kita ingatkan untuk terus  mengedepankan pendekatan persuasif dalam upaya penumpasan kelompok Santoso dan ISIS. Pengikut atau simpatisan itu, kerap kali adalah orang yang  awam. Sekadar ikut-ikutan, terpaksa atau  lantaran tergoda bujuk rayu dari para gembong kelompok. Butuh pendekatan yang lunak untuk mengembalikan kesadaran bahwa kekerasan bukan jalan benar untuk mencapai tujuan. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!