Sejumlah remaja menikmati pagi pertama bulan Ramadan di atas Jembatan Ampera Palembang, Senin (6/6).

Sejumlah remaja menikmati pagi pertama bulan Ramadan di atas Jembatan Ampera Palembang, Senin (6/6).(Antara)

Puasa bagi umat Islam adalah momen penting. Saatnya introspeksi. Melihat lagi ke diri sendiri, mencoba berbuat yang lebih baik lagi - baik untuk diri sendiri maupun sesama.

Ini juga jadi momen penting untuk menerapkan prinsip toleransi secara lebih mendalam. Apalagi belakangan ini ada begitu banyak ketegangan yang terjadi di tengah kita. Mulai dari soal LGBT sampai soal kiri yang hingga kini belum kunjung tuntas. Perbedaan pandangan yang menguji kewarasan kita dalam menghadapi dunia yang beragam.

Puasa adalah penentu apakah kita akan terjebak pada hal yang sama lagi atau tidak. Akankah kaum Muslim menerima ucapan selamat Lebaran atau tidak dari non-Muslim? Apakah kita akan lebaran di hari yang sama atau beda? Apakah rumah makan perlu buka atau tutup saja sepanjang Ramadhan? Razia terhadap rumah makan? Biarlah itu jadi perdebatan usang yang tak perlu terjadi lagi.

Puasa harus dikembalikan ke esensinya: menyucikan diri. Dengan modal ini, maka akan ada damai. Dan rasa damai adalah sesuatu yang mudah menyebar ke segala penjuru. Toleransi mesti terus dipupuk seiring damai yang menyebar.

Selamat puasa dalam damai. Semoga pikiran yang bersih menumbuhkan toleransi yang lebih berarti.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!