Petugas mengoperasikan alat berat guna mencari korban tanah longsor di Caok, Karangrejo, Loano, Purw

Petugas mengoperasikan alat berat guna mencari korban tanah longsor di Caok, Karangrejo, Loano, Purworejo, Jateng, Senin (20/6). (Antara)

Ribuan orang di Jawa Tengah harus melewatkan bulan Ramadan tahun ini di pengungsian. Sebagian kehilangan tempat tinggal, sebagian lain kehilangan sanak keluarga karena diterjang banjir dan longsor.

Bencana banjir dan longsor datang bertubi-tubi di negeri ini. Belum lama kita diguncang kabar banjir dan longsor di Telaga Dua Warna di Sibolangit, Sumatera Utara, lalu disusul banjir bandang yang lebih luas menerjang tujuh kecamatan di Kota Padang Sumatera Barat dan sekitarnya. Akhir pekan lalu, banjir dan longsor menerjang 16 kabupaten kota di Jawa Tengah. Lebih dari 40 orang tewas.

Otoritas pemantau cuaca BMKG berkali-kali mengirim peringatan dini ke berbagai pihak mengenai potensi hujan lebat dan potensi banjir serta longsor. Namun, korban tetap berjatuhan. Selama tahun ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB mencatat terjadi seribu lebih kejadian bencana, dengan korban jiwa mencapai lebih dari 200 orang.

Orang mungkin menyalahkan fenomena La Nina, anomali cuaca yang menyebabkan hujan turun di musim kemarau. Tetapi, manusia tetap harus ikut memikul dosa penyebab bencana.

Banjir dan longsor adalah bencana yang bisa diprediksi, dan semestinya korban jiwa bisa dihindari. Ketika manusia mengabaikan peringatan dini, bahkan membuat kebijakan yang memicu bencana, maka itu yang terjadi di Jawa Tengah baru-baru ini.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB sudah menyebarkan peta rawan bencana banjir dan longsor sejak empat tahun lalu ke daerah-daerah. BNPB dan BMKG juga rutin mengeluarkan peringatan dini. Namun, respon daerah terhadap informasi yang diberikan masih minim. Akhirnya korban berjatuhan.

Juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan kebanyakan pemerintah daerah tidak menjadikan siaga bencana sebagai prioritas pembangunan. Kesiapsiagaan menghadapi bencana juga masih rendah. Bahkan masih ada daerah yang tak kunjung memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD.

Jika manusia tetap menyepelekan peringatan dini dan tidak berusaha melakukan sesuatu untuk mengatasinya, maka tunggulah bencana itu akan datang dan menyebabkan kerusakan lebih besar. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!