Ilustrasi: memantik api

Ilustrasi: memantik api (foto: Antara)

Kedatangan penceramah asal India, Dr Zakir Naik ke Indonesia memicu perdebatan, terutama di media sosial.

Inti perdebatan pada isi ceramah, gaya ceramah hingga paham keagamaan Zakir Naik. Banyak orang terkesima dan kagum pada Zakir Naik karena menganggap isi ceramahnya berani, tegas. Kelompok ini mengagumi Zakir Naik yang sering disebut 'menang debat' dengan para tokoh agama lain.

Di sisi lain, banyak yang tidak suka dengan Zakir Naik karena penceramah berlatar belakang dokter itu kerap berpolemik, lebih banyak menonjolkan menang-kalah dalam perdebatan dengan pemeluk agama lain, dan tidak membuka ruang perbedaan pendapat.

Sepertinya tidak ada penceramah yang mampu membagi umat Islam di Indonesia menjadi dua kubu, seperti Zakir Naik ini. Fanatiknya orang terhadap Zakir Naik mungkin melebihi penghormatan kekaguman santri terhadap kiainya.

Memantau pembicaraan di media massa soal Zakir Naik memperlihatkan pada kita, bagaimana kehidupan beragama di Indonesia saat ini berbeda jauh dengan dahulu. Sebelumnya, orang lebih banyak memahami Islam melalui berbagai pendekatan seperti kesenian dan tradisi yang diwariskan Walisongo hingga ke pendekatan dialog dan etika para kiai Nahdlatul Ulama dan para tokoh pluralisme. Namun, gambaran soal Islam seolah berubah menjadi agama debat -  saat kebenaran diukur dari menang-kalah berargumentasi, monopoli kebenaran, hingga labelisasi kafir munafik terhadap pihak lain yang berbeda pendapat.

Sosok seperti Zakir Naik sejatinya bukan jawaban bagi Indonesia sekarang. Kita juga punya banyak tokoh agama yang lebih sesuai dengan kondisi Indonesia yang serba majemuk. Lebih rendah hati, bijak dan menyejukkan. Sosok seperti KH Mustofa Bisri yang lemah lembut lebih bisa diterima di mimbar khutbah daripada penceramah seperti Zakir Naik. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!