Polisi

Foto: Antara

Badan Urusan Rumah Tangga Dewan Perwakilan Rakyat (BURT DPR) tengah membahas pembentukan polisi parlemen. Ketua BURT beralasan polisi parlemen diperlukan untuk membuat DPR lebih aman dan terhindar dari gangguan. Setiap hari sebanyak lebih 5000 orang tamu datang ke DPR. Dia kuatir jika tak ada jaminan keamanan, di antara tamu ada yang berniat jahat. Gambarannya, DPR ingin memiliki pengamanan seperti Pasukan Pengamanan Presiden/Wakil Presiden atau Paspampres.

Selama ini pengamanan di gedung parlemen dilakukan oleh petugas keamanan dalam. Sebagian besar di antaranya adalah tenaga alih daya. Biaya untuk pengadaan pengamanan alih daya sejumlah 200an personil ini mencapai belasan miliar rupiah. Sementara dalam rancangan itu kelak, polisi parlemen akan dipimpin oleh polisi berpangkat bintang satu atau brigadir jenderal. Total polisi yang akan disiapkan berjumlah hampir 1200 personil. Bayangkan biaya yang dibutuhkan untuk polisi parlemen ini. Belum lagi bila DPR Daerah juga meminta ada polisi parlemen daerah. Maka jumlah biaya yang dibutuhkan akan semakin membengkak dan memboroskan anggaran negara.

Selain alasan anggaran, kebutuhan polisi parlemen dengan alasan keamanan juga tak tepat. Selama ini keamanan gedung para wakil rakyat itu relatif bisa terlaksana dengan baik. Dengan jumlah personil yang ada, sanggup saja kok menjaga keamanan di lingkungan DPR. Tak banyak kasus terjadi - yang terakhir ada malah aksi saling pukul anggota DPR.

Sejumlah fraksi sudah menyampaikan keberatan atas rencana polisi parlemen ini. Selain karena tidak mendesak, polisi parlemen hanya akan membuat jarak dengan para pemilihnya. Yang dibutuhkan saat ini adalah meningkatkan kemampuan personel keamanan yang ada. Agar lebih mumpuni melayani para pemilih yang datang menemui wakilnya serta mengantisipasi dan menangani gangguan keamanan. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!