Foto: Antara

Presiden Joko Widodo hari ini mengatakan berencana mengkaji ulang kebijakan pemberian uang muka untuk membeli mobil bagi pejabat negara. Ia mengakui kalau kebijakan ini keliru mengingat masyarakat tengah mengalami kesulitan ekonomi.

Ini memang keliru dan sungguh tidak tepat. Di saat harga beras naik, disusul barang-barang lainnya, mendengar kabar ada kebijakan pemerintah seperti ini rasanya pilu betul. Kebijakan ini berdasarkan Peraturan Presiden di mana Jokowi menaikkan uang muka pembelian kendaraan menjadi 210 juta rupiah lebih. Jumlah ini naik dibandingkan tahun 2010 dengan alasan inflasi. Ada 753 orang yang bakal mendapatkan uang sebanyak itu... untuk beli mobil.

Menurut Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, ini bukan kebijakan baru – sekadar meneruskan. Hanya saja nominalnya naik karnea ada inflasi. Tapi tetap saja ngilu membayangkan ada uang sebanyak 753 dikali 210 juta rupiah yang akan keluar untuk beli mobil, di saat sebagian besar masyarakat masih ‘megap-megap’.

Menurut Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, usulan kenaikan uang muka beli mobil ini berasal dari anggota DPR. Semula meminta 250 juta, tapi lantas setelah dijai ulang menjadi 210 juta. Ini pun terdengar sama seperti yang lain: tak sensitif. Seperti tak sadar kalau ada warganya, orang yang diwakili para anggota dewan ini, yang hidup makin berat dengan situasi sekarang.

Dari sini yang terasa adalah betapa sulitnya menjadi pejabat yang sensitif – terutama sensitif terhadap apa yang dialami masyarakat kelas paling bawah sehari-hari. Kenyataan yang sesungguhnya bagi para pejabat ada di rumah-rumah warga seperti itu. Hidup pejabat itu bukan hidup warga kebanyakan. Uang 250 juta itu adalah uang yang tak ternilai bagi banyak orang. Apa iya, tanpa mobil maka kerja mereka bakalan tak lancar?

Bersikap, berlaku dan berkata sensitif memang tak mudah. Tapi itu peran yang harus dipelajari seorang pejabat negara karena mereka bekerja untuk kita: rakyat.
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!