Tangkap Pelaku Kekerasan di Aceh

Dua anggota intelejen Komando Distrik Militer (Kodim) Aceh Utara, kemarin ditemukan tewas dengan luka tembak.

Rabu, 25 Mar 2015 08:10 WIB

Prajurit TNI membantu menurunkan jenazah dua rekannya setelah dievakuasi dari kawasan Desa Alue Papeun Aceh utara saat tiba di kamar mayat Rumah Sakit Kesrem, Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Selasa (24/3)

Dua anggota intelejen Komando Distrik Militer (Kodim) Aceh Utara, kemarin ditemukan tewas dengan luka tembak. Saat ditemukan keduanya dalam kondisi mengenaskan, hanya pakai pakaian dalam. Sehari sebelumnya mereka diculik segerombolan orang bersenjata usai berkunjung ke rumah Mukim atau tokoh di kecamatan Nisam Antara.

Diduga korban meninggal karena tembakan senjata jenis AK-47 dan M-16 - berdasarkan temuan selongsong peluru di lokasi. Senapan serbu AK-47 buatan Uni Sovyet yang kini bernama Rusia, dikenal sebagai senjata yang kerap digunakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat konflik separatis di bumi serambi Mekkah. Sedangkan M-16 senapan serbu buatan Amerika Serikat yang biasa digunakan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Ada hubungan apa antara kedua jenis senapan itu dengan konflik masa lalu? Belum jelas betul. Tapi Komandan Resort Militer (Danrem) Lilawangsa, Ahmad Daniel mengingatkan, peristiwa ini bisa memancing dan merusak perdamaian di Aceh pasca perjanjian damai Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005.  Dia berharap kejadian itu yang pertama sekaligus yang terakhir.

Penembakan kali ini bukan yang pertama. Aksi penembakan secara sporadis beberapa kali  terjadi. Sepekan sebelumnya Kantor Lembaga Swadaya Masyarakat Aceh Utara Development Comitee di Desa Ulee madon, Kabupaten Aceh Utara, ditembaki. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Polisi masih menyelidiki kasus ini.

Pasca perjanjian damai Helsinki ribuan senjata dan amunisi eks GAM telah dimusnahkan. Tapi faktanya, masih beredar senjata yang diduga dari sisa konflik. Kepolisian mesti bergerak cepat merazia senjata-senjata ilegal itu. Agar tak disalahgunakan untuk menghabisi orang. Agar perdamaian yang sudah terjadi di bumi serambi Mekkah bisa dirasakan semua warga - sipil dan militer.
  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Indonesia masih menghadapi masalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Pertambahan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja.